Catatan perjalanan ke daerah Batu Hijau, Kep. Sumbawa Besar

Setelah cukup lama tidak melakukan site visit, di bulan Nopember tahun 2010 ini akhirnya saya mengunjungi PT. Newmont Nusa Tenggara di Kepulauan Sumbawa Besar untuk melakukan benchmarking sistem penilaian PajakBumi dan Bangunan (PBB)  pertambangan mineral Indonesia. Lokasi yang saya pilih adalah PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT).

Kawasan tambang selama ini selalu berkesan buruk. Setelah beberapa tahun lalu saya sempat mengunjungi PT. Freeport Indonesia di Papua, tak terkecuali di PT. NNT ini pun memiliki citra yang tidak jauh berbeda. Citra tambang dengan bentang alam yang porak poranda karena penggalian, truk-truk besar yang berlalu-lalang, debu berterbangan kesana kemari, lahan panas dan gersang, akan segera menyergap alam pikiran kita. Memang, baik dalam skala kecil maupun besar, begitulah suasana kawasan tambang. Secara umum mungkin sangat tidak menarik untuk dilihat, namun dari nilai strategis ekonomi nasional maupun lokal tidak dapat dipungkiri bahwa tambang merupakan penopang utama perekonomian sekitar.

Perjalanan selama 4 hari via Mataram ini cukup melelahkan karena seluruh moda transportasi harus dijalani. Dari Jakarta ke Mataram sekitar 1 jam 50 menit menggunakan jalur udara. Dari Mataram sampai ke pelabuhan penyeberangan Kayangan menggunakan jalur darat sekitar 1.5 jam.

Dari pelabuhan Kayangan menggunakan jalur laut melintasi selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa via ferry menuju pelabuhan Kep. Sumbawa Barat memakan waktu sekitar 1.5-2 jam. Dari sini kita melanjutkan perjalanan menuju kota Sumbawa Besar menggunakan jalur darat yang memakan waktu sekitar 2.5 jam.

Foto: Di atas ferry menuju KSB.

Sekilas PT. NNT

(http://en.wikipedia.org/wiki/Batu_Hijau_mine)

PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) merupakan perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership (Newmont & Sumitomo), PT Pukuafu Indah (Indonesia) dan PT Multi Daerah Bersaing (menurut informasi dari pihak manajemen, perusahaan ini  merupakan perusahaan partner antara Pemda setempat dan PT. Bumi Resources). Newmont dan Sumitomo bertindak sebagai operator PT.NNT. PT.NNT menandatangani Kontrak Karya pada 1986 dengan Pemerintah RI untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di dalam wilayah Kontrak Karya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

PT.NNT menemukan cebakan tembaga porfiri pada 1990, yang kemudian diberi nama Batu Hijau. Setelah penemuan tersebut, dilakukanlah pengkajian teknis dan lingkungan selama enam tahun. Kajian tersebut disetujui Pemerintah Indonesia pada 1996 dan menjadidasar dimulainya pembangunan Proyek Tambang Batu Hijau, dengan total investasi US$ 1,8 Miliar. Proyek pembangunan tambang, pabrik dan prasarananya selesai pada 1999 dan mulai beroperasi secara penuh pada Maret 2000.

Tambang Batu Hijau saat ini mempekerjakan lebih dari 4.000 pekerja dan 3.000 pekerja kontrak. Lebih dari 60% pekerja berasal dari Provinsi NTB. Karyawan di Batu Hijau memiliki peluang berkelanjutan untuk mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini memberikan keuntungan ekonomi secara langsung bagi Provinsi NTB dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan masyarakat lokal di pelbagai bidang keterampilan yang biasa digunakan di industri pertambangan modern.

Sekilas Tentang Tambang Batu Hijau

Tambang Batu Hijau di Pulau Sumbawa adalah tambang tembaga terbesar selama ini di Kepulauan Nusa Tenggara yang dulu dikenal pula sebagai Kepulauan Sunda Kecil. Pada mulanya ketika eksplorasi awal dilakukan pada tahun 1980-an, PT.NNT yang sebenarnya lebih ahli dalam penambangan emas, tentu berharap bukit terobosan magma purba yang dieksplorasi akan menghasilkan urat-urat emas.

Dari keterangan pihak PT. NNT dalam eksplorasi itu, para geolog yang menyusuri satu persatu sungai-sungai yang menghulu ke puncak bukit sedikit heran ketika menemukan endapan-endapan travertin berwarna kehijauan. Malachite, itulah nama mineral yang menyusun endapan kehijauan itu. Mineral itu berkomposisi Cu2(CO3)(OH)2 yang berarti endapan yang terbentuk berasal dari air karbonat yang mengandung tembaga. Temuan mineral malachite yang berwarna hijau itulah yang kemudian membuat bukit tersebut dikenal sekarang sebagai Batu Hijau.

Eksplorasi ke arah puncak semakin menggairahkan para geolog bahwa bukit tersebut justru adalah bukit berbijih tembaga ketika dijumpai pula tumbuhan copper fern. Tumbuhan pakis itu menjadi penciri permukaan bahwa tanah tempat tumbuhnya mengandung tembaga. Apalagi tempat dimana pakis tembaga itu tumbuh, terkonsentrasi di suatu tempat yang relatif gundul di antara hutan lebat.

Pada 1990-an, setelah rangkaian penyelidikan mulai dari analisis tanah dan batu, pemetaan geologis, pendugaan geofisika hingga pengeboran, akhirnya menunjukkan bahwa bukit berelevasi asal 460 m di atas muka laut, menjadi sumber tambang tembaga yang cukup kaya.  Semua proses penambangan dengan sangat jelas dapat kita nikmati di Batu Hijau.

Dihari pertama tim yang terdiri dari saya, Madjidi Ali, Romy Ardiansyah, Ahmad Riadi (KP DJP) beserta 2 orang staf KPP Pratama Sumbawa Besar langsung diterima oleh Pak Hary Finance Staff  PT NNT di Benete dan langsung mengadakan general meeting bersama beberapa tim dari PT. NNT. Setelah itu karena waktu sudah cukup senja, dengan menggunakan dua kendaraan rombongan dibawa menuju town site untuk menginap semalam.

Pada hari kedua, kami melakukan site visit ke tambang Batu Hijau dengan waktu tempuh kurang lebih ½ jam dari town site. Pit look out yang sekarang kedalamannya sudah mencapai sekitar 175 meter dari permukaan tanah. Dari tempat kami berdiri sekitar elevasi 100 kita melihat suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Lubang pit yang menganga lebar dengan warna air asam yang hijau kebiru-biruan. Pemandangan ini mengingatkan saya akan keindahan danau tiga warna Kalimutu di Flores atau danau Towuti di Sorowako.

Dari ketinggian tersebut, kami melihat giant truck bekerja seperti semut pada elevasi 30 meter diatas permukaan laut yang bekerja dikontrol oleh sebuah sistem komputer yang terintegrasi secara otomatis. Dijelaskannya, target pengerukan sampai tahun 2010 ini mencapai elevasi 175 meter. Air asam ini dibuang dengan menggunakan empat pompa yang langsung dibuang melaui pipa ke kolam penampung air asam. Ada tiga kolam penampung yang terdapat di teluk Santong.

Menurut penjelasan pihak PT. NNT, penggunaan pit look out ini tergantung dari ijin pinjam pakai yang diberikan pemerintah yang hanya sampai tahun 2011. Dan dari 2011 tersebut ternyata masih ada stock pile yang akan diolah. Kadar batuan yang berada dalam stock pile ini ada tiga jenis yakni Hi grade, Medium Grade, dan Low grade. Menurutnya kemudian bila pemerintah memperpanjang ijin pakainya maka NNT akan mengolah tambang sampai dengan tahun 2022. Disinggung mengenai reklamasi lahan, dijelaskan pula target reklamasi hingga tahun 2033 mendatang.

Setelah hampir 1.5 jam kami memahami proses penambangan di pit, maka kemudian kami menuju pabrik consentrator. Disebelah kanan jalan menuju lokasi tersebut dipenuhi dengan 4 pipa ukuran 3 inch dengan beragam kegunaan. Pipa untuk air bersih dan pipa consentrat yang dialirkan dari Pit menuju ke arah pelabuhan Benete dimana disana terdapat pabrik filter dan kondensasi sebelum produk consentrat di kapalkan. Sesampai kami di pabrik, salah seorang petugas PT. NNT yang memandu menunjukkan bagaimana proses pemisahan bebatuan untuk menjadi serbuk berharga melalui sebuah ruang kontrol. Mulai dari proses memperkecil ukuran batuan (grinding) sampai dengan proses pemisahan sampai dengan pemisahan antara mineral berharga dengan slump nya yang dilakukan melalui proses flotasi sehingga yang tersisa hanya serbuk berharga yang disebut dengan consentrat dengan meninggalkan ampasnya yang dinamakan tailing.

Dijelaskan pula bahwa tailing yang dihasilkan dari proses pengolahan bijih tembaga dan emas PT. NNT tidak berbahaya, tidak beracun dan secara umum memiliki karakteristik yang sama dengan pasir di dasar permukaan laut sekitar pulau Sumbawa. Tailing merupakan bagian yang tersisa dari batuan yang telah digerus sampai halus dan diambil kandungan bijih mineral berharganya. PT.NNT menerapkan sistem penempatan tailing laut dalam (deep sea tailing placement) di bawah zona laut yang produktif secara biologis. Penanganan tailing dimulai setelah pemisahan mineral di proses flotasi ketika slurry (bubur bijih) masuk ke dalam tangki deaerasi. Tangki ini berfungsi untuk menghilangkan kandungan udara dalam tailing, sehingga saat dikeluarkan ke dalam laut tailing tidak bergerak ke atas akibat udara yang naik.

Setelah melalui tangki deaerasi, tailing mengalir melalui jaringan pipa darat sepanjang 6 km dan pipa laut sepanjang 3.4 km menuju tepi palung laut di teluk Senunu dan tailing dilepaskan pada kedalaman lebih dari 100 m di bawah permukaan laut. Karena kepadatan dan massa jenisnya, tailing mengalir secara alami menuruni palung terjal dan mengendap di dasar palung laut dalam di sebelah selatan pulau Sumbawa yang memiliki kedalaman antara 3000 hingga 4000 meter di bawah permukaan Samudra Hindia.

Pemantauan sistem penempatan tailing bawah laut dilakukan secara ekstensif untuk memastikan bahwa sistem ini berfungsi sesuai dengan rancangannya, yaitu untuk meminimalkan dampak potensial bagi lingkungan. Hasil pemantauan terumbu karang, sedimen laut, ikan, ekologi muara, dan mutu air dievaluasi dengan cermat secara berkala oleh para ilmuwan dan ahli profesional..

Setelah sekitar 1 jam mengamati secara seksama proses pembentukan consentrat kami pun menuju lokasi town site kembali untuk packing dan turun untuk makan siang. Nah untuk makan siang kali ini saya bersama tim berkesempatan untuk mampir di pantai Maluk yang bersih dan indah. Disini kami mencoba makanan khas berupa sayur sepat, ikan bakar, sambal pedas dan kelapa muda.

Setelah dapat tambahan tenaga, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah sekitar pelabuhan Benete untuk melihat proses filterisasi dan dewatering consentrat beserta fasilitas lainnya seperti power plant dan dermaga. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA, kami pun berbegas meninggalkan lokasi PT. NNT untuk kembali menuju kota Mataram menggunakan jalur yang sama ketika kami berangkat.

Subhanallah perjalanan ini ternyata sungguh melelahkan dimana dua orang tim kami sudah terlebih dahulu mengeluarkan isi perutnya karena mabuk darat. Namun Alhamdulillah saya masih kuat menahannya sampai pelabuhan penyeberangan.

Terkait dengan perjalanan ini saya mencari keterkaitan antara dunia penambangan dengan Islam. Islam sebagai agama yang yang sempurna yang telah diberikan Allah kepada umat manusia sebagai rahmatan lil alamin. Sedangkan Al-Quran sebagai kitab yang sempurna mengatur dan menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup manusia baik saat sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang. Al-Quran membahas proses kejadian manusia hingga apa yang  akan menjadi rezeki bagi manusia agar dapat menjalani hidupnya di dunia yang salah satunya adalah mengenai dunia pertambangan.

Al-Quran sangat banyak memuat ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pertambangan, memuat masalah bahan-bahan galian ataupun kandungan dalam bumi yang manusia pijak ini. Bahan-bahan galian yang berupa mineral dan batuan merupakan objek utama dalam dunia pertambangan yang memiliki nilai ekonomis dibutuhkan manusia dalam menjalani hidupnya di dunia sebagai perhiasan, sebagaimana firman Allah swt dalam Quran Surah Ali ‘Imran Ayat 14 yang artinya:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Pada ayat ini, Allah memberikan gambaran bahwa emas dan perak merupakan salah satu keindahan dalam hidup manusia yang dicintai keberadaannya karena nilainya yang tinggi. Emas dan perak merupakan salah satu bahan galian yang menjadi objek dalam dunia pertambangan. Ini semua Allah ciptakan sebagai kesenangan hidup di dunia bagi manusia. Dalam ayat lainnya seperti surah Al A’raaf, Ayat 148 yang artinya:

“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim”

Kemudian juga dalam surah Ar Ra’d, Ayat 17 yang artinya:

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”

Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. Dari semua ini, sudah sangat jelas hubungan Al-Quran dengan pertambangan. Ilmu pertambangan didapatkan dari Al-Quran dan saat menambang, penambangan menjadikan quran sebagai panutan agar tidak salah dalam melakukan tindakan saat mengambil hasil bumi sehingga tidak terjadi Bencana. Saatnya kita membuktikan bahwa kita adalah umat yang terbaik, umat yang akan menguasai peradaban dunia,dan Insya Allah tak lama lagi impian itu akan tercapai.

Indahnya alam Sumbawa membawa arti tersendiri bagi saya dalam memaknai nikmat Allah….Subhanallah….. wallahualam bissawab…

Sumbawa, Nopember 2010

Salah satu cerita masa kecilku: “Menulis Nama di Daun”

by: Wiwien Wintarto

Beberapa hari yang lalu, aku berhasil kontak-kontakan lagi lewat Facebook dengan Eddi Wahyudi, teman yang paling lama hilang kontak denganku. Soalnya dia teman jauh dari masa kecil dulu, dan terakhir kali ketemu adalah kira-kira tahun 1988 atau 1989 saat kami masih SMA.

Eddi adalah teman pertamaku saat baru pindah dari Borobudur, Magelang, ke Perumahan Genuk Indah di Semarang akhir tahun 1982. Kami sekelas di kelas V dan VI SD Gebangsari I, Genuk, dan bertetangga. Dia di Blok E, sedang aku di Blok B.

Awal dekade 80-an adalah periode buming kaset video. Dan bareng keluarga Pakde Tjun di Jangli, keluarga Eddi adalah orang-orang pertama yang punya video player. Habis pulang sekolah, kami kerap hang out di rumah Eddi untuk nonton video. Nanti pas weekend, nontonnya ganti di rumah Bayu, Sam, Maya, Wulan, Panca, di Jangli. Menu favorit kala itu adalah serial kungfu Sia Tiauw Enghiong dan Sin Tiauw Hiap Loe. Bareng Eddi lah pertama kali aku kepikiran nerbitin novel. Saking gatelnya, waktu itu kami sampai bikin novel sendiri dari buku tulis (buku biru Cap Banteng, buku paling populer kala itu). “Novel pertama”-ku waktu itu berjudul Yang Dinanti Datanglah Jua. Genre-nya melodrama anak-anak. Kisahnya tentang kakak-beradik yang terpisah karena banjir dan lantas ketemu lagi namun nggak menyadari bahwa mereka saudara kandung.

Novel YDDJ komplet dilengkapi dengan “kaver” (ilustrasi by me!) dan kredit penerbit kayak di buku beneran. Nama “perusahaan” penerbitnya pun ada, yaitu CV Eka Jaya Sakti alias EJS. Yang lucu, di bagian depan tertulis cetakan pertama pada bulan Desember 1982, tapi di bagian ending ada tag tanggal tertulis Februari 1983. Masa ada buku tanggal cetakannya lebih awal daripada tanggal selesai penulisannya? Huehehe…!

Kami juga sempat jadi kartunis amatiran selama beberapa bulan. Jadi waktu itu almarhum Bapak pegang rubrik kartun di Minggu Ini (edisi Minggu Suara Merdeka, sebelum berevolusi jadi Cempaka Minggu Ini dan SM kemudian nerbitin Edisi Minggu). Karena aku masih getol belajar ngartun dan ngomik, aku dikasih lahan untuk ikut nimbrung di rubrik itu. Maka aku pun ikut nggambar kartun dengan nama Top 84 (kemudian Top 85, sesuai tahunnya). Tokoh kartunku selalu gundul, berhubung dulu aku sempat gundul juga. Aku lantas ngajak temen-temenku untuk ikut gambar kartun juga, termasuk Eddi, Pratmono, dan adikku si Itok.

Waktu itu kartunis idola kami adalah almarhum Edy PR, yang selalu menambahkan nama gengnya, POKAL, di belakang nama. Berhasrat mau bersaing dengan POKAL, KOKKANG, dan SECAC (organisasi perkartunan Semarangawal 80-an), kami pun bikin kelompok sendiri, yaitu PANIK (Paguyuban Kartunis Genuk). Selama beberapa edisi berturut-turut, karya kartunis-kartunis cilik dari PANIK bergantian menghiasi rubrik kartun MI. Kami pun sudah belajar nyari duit sendiri (uang honorku dikumpulin Ibu dan dibelikan celana pendek!). Tapi namanya ya anak-anak, begitu bosan, profesi sebagai kartunis pun ditinggalkan untuk nyari hobi lain.

Selain lewat rubrik kartun di koran, Eddi dan aku juga nyari duit dengan mendirikan perpustakaan (persewaan buku). Namanya Perpustakaan Rajawali. Modal bukunya ya komik dan novel punya kami yang lalu dikumpulkan jadi satu. Ketika itu geliat enterpreneurship kami udah kayak wirausaha sungguhan.

Kami sempat bikin stempel Perpus Rajawali dan member card. Lantas di balik kaver belakang tiap buku ditempeli kartu tanda kembali mirip buku-buku perpus sekolah. Nggak lupa di atasnya ada judul “DATE DUE” meski belum tahu date due itu artinya apa! Anggota Perpus Rajawali ya rata-rata teman sekolah dan anak-anak tetangga kanan-kiri.

Nah, pas kelas VI, di mapel Bahasa Indonesia, guru kelas kami Pak Supadi ngasih tugas bikin sandiwara kelompok. Eddi dan aku kebetulan satu kelompok, bareng anak-anak lain kayak Pratmono, Erwanto, Mangapul Ramli, Zainur Rofiq, Sriyono, dan juga Ardi Purnomo. Aku kebagian nulis naskahnya, dan kukasih cerita berjudul Insyaf. Ceritanya tentang pecandu narkoba yang tertangkap polisi, dimarahi ayahnya, dan lantas insyaf. Aku lupa pembagian perannya. Yang jelas waktu itu peranku ada dua. Satu sebagai Kapten Polisi, dan satunya lagi sebagai…. sound effect pintu!

Bener. Waktu itu suaraku “iiiyeeeeekkk….!” mirip sama pintu yang engselnya karatan, jadi aku dikasting jadi pintu! Pas adegan polisi datang mengetuk pintu, aku beraksi sebagai pintu yang dibuka. “Permisiii…!”, “Tok, tok, tok!”, “Monggo!”, “Iiiyyeeeeekk…!”.

Selain sandiwaranya dipentaskan di kelas, kami juga ditugaskan merekamnya di kaset. Pas rekaman diputar di kelas sebelum kelompok kami pentas, anak-anak pada ketawa dengar sound effect pintu. Habis itu yang main giliran kelompok anak-anak perempuan, Dhanita Amir cs. Di sandiwara mereka, ada adegan pisau belati dilempar ke meja dan bikin penonton kaget!

Tahun 1986, Piala Dunia FIFA digelar di Meksiko. Kami sama-sama maniak bola. Dan saking ngefansnya, Eddi sampai melakukan hal yang sungguh ganjil. Dia menulisi daun-daun pohon jambu di pekarangan rumahku pake spidol dengan nama-nama pemain terbeken di Piala Dunia saat itu. Ada daun ditulisi Altobelli, Careca, Francescoli, dan lain-lain!

Suatu saat habis ortunya pulang dari naik haji, temen-temen segeng ngumpul di rumahnya untuk menerima oleh-oleh cendera mata dari Arab Saudi. Aku dioleh-olehi tasbih mini dan Alquran mini yang kuwecuiiil buanget (sayang kedua benda penting itu sekarang sudah hilang).

Sambil nongkrong, Mono, Itok, dan aku ngemil. Salah satu yang paling laris adalah kacang Arab. Maklum, camilan mancanegara. Awalnya kami heran, kok rasanya pahit dan agak tengik kayak snek kadaluarsa gitu. Tapi dengan pedenya Mono lantas bilang, “Kalo kacang dari Arab rasanya emang kayak gini!”

Maka kami pun meneruskan ngemil dengan antusias meski rasanya pahit. Baru sesaat kemudian Eddi ikut ngemil juga. Pas tahu rasanya pahit, dia mengerenyit dan mengecek serta menghidu kacang di stoples. Tahu-tahu dia bangkit dan membawa pergi stoples kacangnya sambil menggeremeng,

“Woo… kacangnya udah tengik…!”

Yang lain pun hanya saling berpandangan dengan tampang bego.

Taken from: http://wiwienwintarto.blogspot.com/2009/10/menulis-nama-di-daun.html

Halal Bi Halal ALSTE 90

Subhanallah…. Senyum dalam bingkai salam dan sapa melalui lantunan kalimat “minal aidin wal faizin, maaf lahir bathin” yang disampaikan kepada rekan telah mengawali hari-hari awal aktivitas kita setelah lebaran ini. Indah sekali. Tapi yakinkah ucapan maaf lahir bathin yang disampaikan adalah sebuah permintaan dan penerimaan maaf yang tulus ? Hanya diri kita sendiri dan Allah yang tahu.

Kita sebenarnya sangat beruntung dengan tradisi saling memaafkan dalam setiap momentum Idul Fitri. Dengan tradisi ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk melatih merendahkan diri untuk tidak sungkan, secara kesatria, memohon maaf. Sebaliknya, kita berlapang dada untuk memaafkan. Inilah sikap yang utama. Allah berfirman:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur:22)
Al Qur’an menyebutkan pula bahwa sifat pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Q.S Asy Syuuraa: 43).

Apabila kita  mampu memaafkan kesalahan orang lain, Insya Allah kita akan menjadi orang yang bertaqwa (muttaqin). Sesuai dengan firman Allah dalam QS Ali Imran: 133-134: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Maaf adalah kata yang indah namun sulit dijalankan, manusiawi memang. Namun keyakinan bahwa memberi maaf itu lebih dekat kepada ketakwaan seperti firman Allah: “Dan jika kamu memberi maaf, maka itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Baqarah: 237), semoga menyempurnakan upaya kita semua dalam mencapai derajat taqwa yang merupakan tujuan kita berpuasa Ramadhan.

Semoga senyum dan kehangatan ucapan saling memaafkan, benar-benar datang dari hati yang bersih (ikhlas) sehingga kita bisa menjalani hari-hari berikutnya dengan kelapangan hati. Untuk itu pula maka tidak salah bila ALSTE 90 kembali berkumpul untuk bersilaturahmi dalam rangka memupuk bingkai taqwa melalui acara Halal Bi Halal.

Alhadulillah hari Sabtu tanggal 25 September 2010 Jam 11.00-15.00 ALSTE 90 Korwil Jakarta kembali berkumpul untuk Silaturahmi dengan bandroll acara Halal Bi Halal. Acara berlangsung di rumah Diany, Jl. Pendidikan III Cijantung, Jaktim.  Seperti biasanya acara ini berlangsung semarak dan mengalir bagitu saja. Ada yang istimewa dalam acara kumpul-kumpul kali ini. Disamping selalu saja ada peserta alumni baru bergabung seperti: Lilik Kartikasari, Widodo, Meita, Rawuh Makaryo dan hadir pula beberapa tamu undangan dari Jogja dan Semarang yaitu Adhy, Anggoro, Jarod dan Arief Hidajawan (KumKum).

Tak lupa mengucapkan puji syukur dan memanjatkan doa untuk rekan Sigit yang akan berpindah tugas ke Poertorico (Dibaca: Purwokerto), kita juga bergembira sekaligus berdoa untuk rekan Dayat GDT beserta keluarga yang Insya Allah akan menunaikan ibadah haji tahun ini…. Foto by: Anis, Abeth, Andre

My New Book: “Pajak-Pajak Properti Untuk Profesional”

Buku ini sudah dapat diperoleh di Gramedia….

Preview

Ketika mendengar kata pajak, biasanya setiap orang dewasa akan cenderung posesif dan menghindar seakan pajak merupakan momok bagi semua orang. Tapi tahukah Anda bahwa kelancaran dan keberhasilan pembangunan suatu negara sangat tergantung dari pajak? Pajak merupakan salah satu bentuk tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pajak merupakan suatu kewajiban sekaligus bentuk pengabdian dan peran aktif warga negara dalam rangka ikut melaksanakan pembangunan nasional.

Percayakah Anda bahwa ternyata sejarah pajak sudah dimulai sejak zaman Fir’aun? dan bahkan sebenarnya masalah perpajakan sudah ada sejak lama dalam sejarah hidup umat manusia. Nah, konon kabarnya pajak tercipta disebabkan karena adanya kebutuhan manusia untuk hidup berkelompok karena ketergantungan satu sama lain. Cara hidup berkelompok atau berorganisasi seperti ini yang kemudian menciptakan negara. Dengan terbentuknya negara maka kemudian dibutuhkan adanya resources untuk membiayai pengeluaran bersama, sehingga diperlukan suatu cara untuk memobilisasi sumber daya yang salah satu caranya dari pajak.

Pajak secara umum merupakan iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat dalam hal ini wajib pajak untuk memenuhi pengeluaran rutin negara dan pembiayaan pembangunan tanpa memperoleh balas jasa secara langsung. Pengertian pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) Pasal 1, adalah:

“Kontribusi wajib kepada negara (daerah) yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan lansung dan digunakan untuk keperluan negara (daerah) bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Disamping itu ada juga pungutan lain dengan tujuan sama yaitu yang disebut dengan retribusi. Namun demikian retribusi merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Contoh : Retribusi Parkir, Retribusi Galian Pasir dan lain-lain.

Dari beberapa pengertian yang kita pahami ternyata dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat lima unsur pokok dalam defenisi pajak, yaitu iuran/pungutan, dipungut harus berdasarkan Undang-Undang, dapat dipaksakan, tidak menerima kontra prestasi secara langsung dan digunakan untuk membiayai pengeluaran umum pemerintah.

Perlu anda ketahui bahwa pajak ternyata memiliki beberapa fungsi yang tidak hanya sebagai sumber penerimaan negara (fungsi bugeter) yang digunakan untuk membiayai pembangunan tetapi dapat pula berfungsi lain seperti:

  1. Fungsi Alokasi dimana pajak berfungsi sebagai sumber penerimaan keuangan negara yang kemudian digunakan untuk dialokasikan bagi pengeluaran rutin.
  2. Fungsi regulasi adalah fungsi pajak yang digunakan sebagai alat untuk mengatur atau mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Kalau melihat dari pihak yang menanggung beban pada dasarnya pajak dapat dikenakan secara langsung maupun tidak langsung. dengan pengertian sebagai berikut. Pajak Langsung merupakan pajak yang dibebankan kepada wajib pajak setelah diterbitkannya Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) yang dikenakan secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Contohnya adalah pajak penghasilan (PPh), pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak penerangan jalan, pajak kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. Sedangkan Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang dikenakan kepada wajib pajak hanya pada saat tertentu saja atau ketika terjadi suatu peristiwa kena pajak, seperti misalnya pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB), dan lain-lain.

Ditinjau dari siapa pemungut pajaknya, maka pajak dapat dibedakan menjadi pajak negara atau pajak pusat dan pajak daerah. Disebut dengan pajak pusat, bila pajak yang dipungut dilakukan oleh pemerintah pusat. Contoh pajak pusat adalah PPh, PPN, PPn dan Bea Materai. Sedangkan pajak daerah, adalah apabila pemungutan pajak dilakukan oleh pemerintah daerah.  Contoh pajak daerah adalah Pajak tontonan, pajak reklame, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), PBB, Iuran kebersihan, Retribusi terminal, Retribusi parkir, Retribusi galian pasir dan lain-lain.

Disamping itu kalau kita melihat jenis pajak menurut sifat-sifatnya maka kita juga dapat membedakan pajak menjadi berjenis subjektif dan objektif. Pajak dikatakan berjenis subjektif, bila pajak yang dikenakan memperhatikan kondisi keadaan wajib pajak. Dalam hal ini penentuan besarnya pajak harus memiliki alasan objektif yang berhubungan dengan kemampuan membayar wajib pajak. Contoh jenis pajak ini adalah PPh. Sedangkan pajak berjenis objektif, apabila pajak yang dikenakan didasarkan pada objek yang dimilikinya  tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh jenis pajak ini adalah PPN, PBB, PPn-BM.

Pajak Properti

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan properti? Secara umum properti dapat didefinisikan dengan segala sesuatu benda yang dapat kita miliki.  Properti sendiri dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu real property, personal property, businesses property dan financial interests. Menurut Standar Penilaian Indonesia (SPI) properti didefinisikan sebagai konsep hukum yang meliputi seluruh kepentingan, hak dan keuntungan dari suatu kepemilikan. Terhadap pengertian tersebut maka kita dapat membedakan antara penguasaan fisik atas tanah dan atau bangunan yang dalam hal ini disebut dengan real estat serta kepemilikan secara hukum atau penguasaan yuridis yang disebut real property.

Bagi anda yang berkecimpung di dunia bisnis pasti tidak akan lepas dari masalah perpajakan. Demikian pula dalam setiap melakukan transaksi jual beli properti tentunya akan mengandung kewajiban pembayaran pajak. Pajak-pajak tersebut akan dikenakan kepada pembeli maupun penjual properti.

Mengapa penguasaan fisik dan penguasaan secara yuridis atas tanah dan atau bangunan perlu dipajaki? Hal ini tidak terlepas dari fungsi pajak properti sebagai salah satu bagian sumber penerimaan negara (fungsi bugeter) yang digunakan untuk membiayai pembangunan dan fungsi regulasi dimana pajak properti digunakan sebagai alat untuk mengatur perkembangan pasar propeti.

Seperti kegiatan membeli properti baik yang dilakukan secara perorangan maupun melalui developer atau pengembang properti, akan mengandung konsekuensi kewajiban yaitu adanya aspek pajak-pajak yang akan dikenakan pemerintah kepada Anda. Meskipun demikian biasanya pajak properti telah dimasukkan ke dalam harga jual jika anda membeli properti melalui developer/pengembang properti. Besarnya pajak sangat tergantung jenis, nilai, luas dan lokasi properti yang akan ditransaksikan.

Di bawah ini adalah merupakan jenis-jenis pajak properti yang dibebankan baik kepada pembeli maupun penjual properti yang akan dibahas dalam buku ini meliputi antara lain:

1. PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).

PBB merupakan pajak kebendaan yang melekat pada objeknya yang dipungut setiap tahun dan dikenakan kepada semua wajib pajak (pemilik properti). Pada awalnya pajak ini merupakan pajak yang proses administrasinya dilakukan oleh pemerintah pusat namun demikian seluruh penerimaannya dibagikan ke daerah dengan proporsi tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya dengan diberlakukannya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang PDRD maka mulai tahun 2014 seluruh proses pengelolaan pajak ini akan dilakukan oleh pemerintah daerah.

2. BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan).

Bea ini dikenakan terhadap semua transaksi properti, baik properti baru maupun lama yang dibeli dari developer atau perorangan. Pajak ini pun status pada awalnya sama dengan PBB yaitu merupakan pajak yang proses administrasinya dilakukan oleh pemerintah pusat namun demikian seluruh penerimaannya dibagikan ke daerah dengan proporsi tertentu, sedangkan dengan diberlakukannya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang PDRD maka mulai tahun 2011 seluruh proses pengelolaan pajak ini akan dilakukan oleh pemerintah daerah.

3. PPh (Pajak Penghasilan).

Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan kepada penjual perorangan atau badan.

4. PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

Pajak ini hanya dikenakan satu kali pada saat membeli properti baru, baik dari developer maupun perorangan. Jika membeli properti dari developer, untuk pembayaran dan pelaporan biasanya dilakukan melalui developer. Tapi jika membeli dari peroarangan, pembayaran dilakukan sendiri setelah transaksi. Disamping itu pajak ini juga dikenakan terhadap pembangunan rumah yang dilakukan secara sendiri oleh orang pribadi atau badan.

5. PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah)

PPnBM hanya dikenakan untuk properti yang dibeli dari developer dan memenuhi kriteria sebagai barang mewah. PPnBM tidak berlaku untuk transaksi antar perorangan.

Apabila properti tersebut ditransaksikan maka pajak nomor 2-3 akan berjalan. Untuk itu anda perlu memahami skema berikut sebelum melihat detail jenis-jenis pajak tersebut lebih mendalam. Pembahasan mengenai ke 5 jenis pajak properti tersebut secara lebih mendetail akan anda temui pada bab-bab setelah ini.

Skema alur pajak transaksi properti di atas menjelaskan bahwa apabila terjadi transaksi pengalihan tanah, maka bagi pemilik tanah akan membayar PPh final atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan (Pasal 4 ayat (2)) sebesar 5% dan pembeli baik perorangan atau developer akan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 5% pula. Apabila kemudian pihak developer mengembangkan tanah tersebut menjadi:

  1. Kavling siap bangun dan menjualnya ke konsumen A, maka konsumen A akan membayar BPHTB sebesar 5% dan PPN sebesar 10%,
  2. Apartemen/town house dengan kriteria tertentu dan menjualnya ke konsumen B, maka konsumen B akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%,
  3. Perumahan dan menjualnya ke konsumen C, maka konsumen C akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%(bila memenuhi kriteria yang dipersyaratkan).

Apabila kemudian  konsumen A membangun bangunan dan masuk kriteria yang dipersyaratkan di atas kavling yang telah dibelinya dari developer tersebut secara sendiri maka wajib membayar PPN Kegiatan Membangun Sendiri sebesar 4%. Apabila kemudian konsumen B menyewakan apartemen/town house yang telah dibelinya dari developer ke konsumen D, maka konsumen B wajib membayar PPh final Pasal 4 ayat (2) sebesar 10%. Sedangkan bila B kemudian tidak menyewakannya tapi menjualknya ke konsumen E maka konsumen E akan membayar BPHTB sebesar 5% dan konsumen B akan membayar PPh sebesar 5%.

Namun demikian apabila kemudian pihak developer mengembangkan tanah tersebut menjadi perumahan dan masuk pada kriteria tertentu yang dipersyaratkan, serta kemudian menjualnya pada konsumen C, maka konsumen C akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%.

Pengakuan Seorang Ekonom Perusak (Confessions of an Economic Hit Man)

Ini adalah tulisan lama setelah saya diminta oleh Prof. Gumbira Said untuk  membaca sebuah buku yang berjudul “Confessions of an Economic Hit Man” karangan John Perkins dan membuat resensinya. Rasanya sampai sekarang buku ini masih relevan untuk dibaca.

Buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup pengarangnya sebagai seorang ekonom yang merupakan bagian dari konspirasi kepentingan perusahaan multinasional didukung oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menguasai dan melemahkan posisi ekonomi negara berkembang. Salah satu sisi kisah di dalam buku itu banyak mengungkapkan situasi ekonomi dan politik di Indonesia, Iran, Arab Saudi, Panama, Columbia dan Equador. Bahkan dalam tugas pertamanya John Perkins sebagai EHM adalah membuat proyeksi kebutuhan listrik di Pulau Jawa yang digelembungkan dua kali lipat lebih. Konsekuensinya, investasi yang harus dilakukan oleh PLN membengkak sedangkan pembiayaannya melalui pinjaman luar negeri.

Menurut dia, hal itu dilakukan untuk membuat negara seperti Indonesia terjebak dalam perangkap utang, sehingga kebijakan ekonominya mudah dikendalikan. Dia juga banyak mengungkapkan bagaimana kepentingan perusahaan multinasional ditancapkan melalui deregulasi, liberalisasi, penggelembungan proyek, korupsi, seks dan tekanan politik. Dogma korporatokrasi dan global imperium telah menghasilkan penjajahan ekonomi melalui penguasaan sumberdaya energi, lahan dan modal. Kalau cara-cara seperti itu tidak berhasil, maka cara-cara militer diterapkan.

Globalisasi telah mendorong perusahaan multi nasional untuk mengembangkan sayapnya ke berbagai negara.Corporatocracy (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi) yang dibangun negara maju menjadi sebuah alat yang cukup ampuh untuk menekan negara lemah melalui kekuatan ekonominya. Penggunaan pendekatan yang berdalih kemanusiaan menjadi isu utama untuk melumat kekuatan ekonomi sebuah negara. Pelajaran berharga telah terjadi di Indonesia melalui masukknya kekuatan global kedalam sendi-sendi perekonomian nasional.

Masuknya kekuatan modal dalam jumlah yang besar berawal dari resesi ekonomi global tahun 1998 yang sepertinya sudah sangat direncanakan. Indonesia yang sebelumnya dianggap sebagai macan Asia dengan semboyan “swasembada beras”, pertumbuhan ekonomi tinggi, menjadi satu-satunya negara yang masih berkutat dalam kemunduran ekonomi. Membaca buku EHM John Perkins dimana pemberian pinjaman secara besar-besaran dilumat oleh kejatuhan mata uang regional melalui “tarnsaksi Soros” menjadikan negara dengan tingkat utang sangat besar dan cenderung bangkrut (Soros, 2000). Utang pemerintah dan swasta nasional membengkak dan akhirnya dikelola oleh badan bentukan IMF yaitu BPPN. Aset-aset potensial nasional dijual ke pihak asing untuk menutupi devisit APBN yang sebagian besar untuk membayar pokok dan bungan pinjaman.

Apakah ini merupakan isu yang baru ? Menurut Mason Gaffney (1994), Henry George (1979) dan Hernando deSoto (2003) melalui teori konspirasi ekonominya dapat dimengerti bahwa ilmu ekonomi sebenarnya diciptakan untuk melayani kepentingan perusahaan tertentu. Menurutnya konspirasi akan terjadi secara alami akibat hubungan bisnis karena memang ilmu ekonomi sudah mendukung paradigma terebut. Berikut penggalan paragraf dari buku tersebut yang sangat menarik.

  • Buku ini didedikasikan kepada dua orang Presiden dari dua Negara yang pernah menjadi kliennya. Mereka sangat dihormati dan selalu  dikenang dalam semangat persaudaraan, yaitu, Jaime Rold’os (Presiden Ecuador) dan Omar Torrijos (Presiden Panama). Keduanya meninggal dunia dalam tabrakan yang sangat mengerikan. Menurut Perkins Kematian mereka bukan karena kecelakaan. Kedua presiden itu mati dibunuh karena mereka menentang ‘persaudaraan’ (fraternity) dengan para pemimpin  dunia korporasi, yaitu pemerintah, perusahaan dan perbankan yang tujuanya membentuk kerajaan dunia. Para EHM gagal membawa Rold’os dan Torrijos mengikuti perintah-perintah sang penguasa, dan hit men jenis lain (CIA) mengambil alih.
  • Selama dua puluh tahun terakhir Perkins menulis bukunya sebanyak empat kali. Kejadian-kejadian yang penting seperti invasi oleh Amerika Serikat ke Panama pada 1989, Perang Teluk Pertama, perang Somalia, dan bangkitnya Osama Bin Laden mendorong keinginannya untuk menulis lagi. Pada 2003, presiden dari sebuah perusahaan penerbit besar menolak menerbitkan buku ini karena dia tidak dapat menanggung amarah dan penentangan oleh markas besar organisasi-organisasi dunia. Dia menganjurkan agar Perkins membuatnya seolah-olah fiktif, seperti gaya John le Carr’e atau Graham Green.
  • Yang akhirnya membuat Perkins menyingkirkan ancaman dan penyuapan supaya tidak menulis adalah karena anak tunggalnya yang bernama Jessica. Setelah membicarakan rencana menerbitkan buku ini beserta berbagai ancamanya, Jessica mengatakan “jangan khawatir ayah, kalau mereka membunuhmu, saya akan melanjutkanya dari yang engkau tinggalkan, kami perlu melakukanya untuk cucu-cucumu yang saya harap suatu hari akan saya berikan kepadamu.”
  • Penugasan pertama Perkins sebagai EHM adalah Indonesia. Dia akan menjadi bagian dari dua belas orang yang dikirimkan untuk membuat sebuah rencana strategi energi untuk pulau Jawa dan memutuskan bahwa proyek itu juga bisa dibuat untuk Kuwait. Perkins menemukan bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan berbagai kesimpulan yang dikehendaki oleh sang analis guna memperkuat kesimpulan-kesimpulan yang direkayasanya.
  • Cludine Martin adalah orang yang mempersiapkan Perkins menjadi seorang EHM.
  • Tujuan penting seorang EHM ada dua yaitu, Pertama: Seorang EHM harus membenarkan kredit dari dunia internasional yang sangat besar jumlahnya, yang akan disalurkan melalui organisasi yang disebut MAIN dan perusahaan AS lainya melalui proyek engineering dan konstruksi raksasa. Kedua, EHM harus bekerja untuk membangkrutkan negara-negara penerima pinjaman raksasa tersebut (tentu setelah mereka membayar kepada MAIN dan kontraktor AS lainya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkram para kreditornya. Dengan demikian negara-negara penerima utang itu akan menjadi target yang mudah ketika penguasa memerlukan sesuatu yang dikehendaki, seperti pangkalan militer, suaranya di PBB atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainya. Proyek-proyek yang berdampak pada PDB tertinggi harus dimenangkan.
  • Tujuan membangun proyek-proyek besar adalah antara lain untuk para kontraktornya, dan membuat bahagia sekelompok kecil elit dari bangsa penerima utang luar negeri (contoh keluarga kerajaan House of Saud, Arab Saudi), sambil memastikan ketergantungan keuangan yang langgeng. Tujuan akhirnya menciptakan kesetiaan politik dari negara-negara target di dunia.
  • Selanjutnya ditulis semakin besar jumlah utang luar negeri yang diberikan semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang akan dikenakan pada negara-negara penerima akan menyengsarakan rakyatnya. Bidang yang menjadi sasaran adalah kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial.

Para EHM diturunkan dengan alasan bahwa penggunaan pendekatan militer saat ini terlampau berisiko.  Juga di tulis ketika Inggris meminta bantuan AS untuk menjatuhkan Mossadegh karena dianggap berani melawan British Petroleum (BP). AS memutuskan mengirimkan cucu Presiden Theodore Roosevelt bernama Kermit Roosevelt untuk menjatuhkan Mossadegh tanpa pertumpahan darah dan tanpa senjata. Biaya yang dikeluarkan hanya juta dolar AS dipakai untuk membuat  keonaran dan demonstrasi besar-besaran melalui rakyat Iran melawan Mossadegh, walaupun sebelumnya Mossadegh dipuji sebagai pembawa demokrasi untuk negaranya, dan majalah Time menobatkanya sebagai man of  the year.

Kita boleh percaya atau boleh juga tidak terhadap kebenaran isi buku tersebut, karena memang penuturannya sangat subjektif. Tapi satu hal yang pasti bahwa kita juga tidak bisa percaya sepenuhnya terhadap perusahaan multinasional bahwa mereka adalah perusahaan yang melakukan kompetisi secara sehat, tidak korup, menerapkan good corporate governance, dan memiliki tanggung jawab sosial. John Kenneth Galbraith, pemenang Nobel Ekonomi, di dalam buku terbarunya berjudul The Economics of Innocent Fraud menyebutkan bahwa era di mana perusahaan adalah sebuah entitas yang jujur dan bersih sudah berakhir.

Pada awalnya Perkins menikmati tugasnya sebagai seorang EHM profesional dengan sandaran uang sebagai faktor utamanya diatas nasionalisme kepentingan negara asalnya. Namun demikian lama-kelamaan kesadarannya timbul bahwa apa yang dilakukan selama ini akan menyengsarakan banyak orang. Oleh karena itu dia ingin mengungkapkan bahwa praktek EHM di dunia ketiga sudah sangat meresahkan sehingga perlu dilakukan koreksi.

Atau paling tidak keseimbangan antara bisnis, pemerintah dan coporate social responsibility (CSR) harus berjalan sebagaimana mestinya. Karena jika dilihat bentuk CSR dari negara maju selama ini sebenarnya juga kembali ke negara itu sendiri. Contoh pemberian bea siwa bagi anak-anak Indonesia untuk bersekolah di luar negeri, sebenarnya uang yang diberikan akan kembali kenegara itu juga dalam bentuk biaya sekolah, biaya hidup dan hasil-hasil penelitiannya. Sangat sedikit yang bermanfaat bagi negara asal, lebih parah lagi jika SDM tersebut tidak direspon pemerintah asalnya sehingga ditawari bekerja di LN.

Menurut Velasquez (2006) nilai-nilai etika bisnis dapat dibedakan menjadi beberapa macam:

  • Utilitarianism. A general term of any view that holds and actions and policies should be evaluate on the basis of the benefits and cost they will impose on the society,
  • Justice. Distributing benefits and burdens fairly among people,
  • Right and Caringt. Individual entitelments to freedom of choise and well being,

Pelanggaran etika bisnis dalam praktek internasional jelas terjadi terutama dilakukan oleh negara penggagas ilmu etika itu sendiri. Dalam bukunya George Soros (2000) pun mengakui bahwa AS saat ini telah melenceng dalam menentukan kebijakan internasionalnya. Caranya mengembangkan kekuasaan global tidak dilakukan secara santun dan ramah. Bush tidak memberi peluang bagi kemungkinan terjadinya kesalahan ideologi dalam dirinya serta tidak memberikan toleransi perbedaan pendapat. Dia mengatakan “apabila anda tidak bersama kami, maka anda menentang kami” (Soros,Open Society, p.xv, 2000). Contoh nyata terlihat dalam penerapan standar ganda kebijakan senjata nuklir terhadap Iran dan Israel.

Banyak nilai-nilai moral dan etika yang dilanggar di ungkapkan dalam buku ini dan dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • Banyaknya ketidakjujuran para pelaku EHM demi kepentingan kelompok korporatokrasi dan pribadi (kepentingan perusahaan AS Haliburton, Betchel, Shell, Exxon, Freeport) ,
  • Perilaku EHM yang buruk dan amoral (menggunakan segala cara dalam mencapai tujuan),
  • Terjadinya konflik kepentingan antara negara dengan sumber keuangan kuat dengan negara berkembang  dengan kemampuan terbatas namun memiliki SDA melimpah (contoh Ekuador, Venezuela, Indonesia, Myanmar, Saudi Arabia, Irak),
  • Pelanggaran terhadap peraturan UU di sebuah negara dengan dalih menerapkan teori relativism,
  • Perlakukan yang tidak adil dalam hubungan bilateral melalui penerapan strandarisasi tinggi (ISO) dan memaksa negara lain membuka pasarnya melalui organisasi WTO,
  • Pelanggaran terhadap prosedur yang berlaku,
  • Terjadi inefisiensi atau pemborosan dengan jalan menggelembungkan estimasi sebuah proyek,
  • Menutupi kesalahan dengan dalih untuk kepentingan rakyat (cara-cara orde baru).

Dalam bidang ekonomi penerapan standar tinggi melalui aturan-aturan mutu (ISO) terhadap barang-barang luar negeri yang akan dipasarkan di negaranya (menghambat jalur perdagangan) padahal melaui organisasi WTO setiap negara dipaksa untuk membuka pasarnya terhadap hambatan masuk arus barang dan jasa dari negaranya. Praktek-praktek ini yang ingin disampaikan oleh Perkins dalam bukunya. Indikasi ke arah penjajahan ekonomi sudah mulai terlihat jelas pada saat ini. Masuknya Freeport ke Papua, Exxon Mobile ke blok Cepu, Newmont Nusantara ke Nusa Tenggara, bantuan-bantuan melalui NGO mengalir deras ke daerah bencana dan isu terakhir yang mulai menggoyahkan hati pemerintah adalah komitmen pinjaman baru dari lembaga donor tergabung dalam CGI untuk menutup defisit APBN 2006 padahal pemerintah telah berkomitmen untuk melunasi utang negara dalam 2 tahap.

Di Indonesia, prilaku amoral EHM terlihat dari hancurnya tidak hanya beberapa perusahaan BUMN seperti PLN dan Pertamina, tetapi juga perusahaan swasta nasional di berbagai sektor seperti perkebunan, perbankan, pertambangan, dan industri kertas. Lebih parah lagi beberapa perusahaan tersebut tidak berani speak out kepada publik dan pemerintah, yang jelas ada enam modus EHM berprilaku amoral yang terjadi di negara kita dan belum diungkapkan oleh Perkins.

Pertama, pembuatan angka-angka estimasi pesimistis terutama berkaitan dengan nilai aset dan jumlah stok sumber daya. Tujuannya sederhana, yakni mengurangi nilai perusahaan, sehingga harganya jatuh ketika diambil alih. Hampir semua perusahaan yang didivestasi BPPN dijual dengan asumsi asetnya berada dalam kondisi distress value. Pada 1998 semua aset kredit properti pernah diasumsikan nilainya sama dengan nihil oleh IMF, padahal tidak semuanya macet. Pendiskonan cadangan kayu dari hutan produksi juga sering dilakukan oleh lembaga riset internasional. Kelangkaan kayu memang terjadi untuk industri kayu yang mengandalkan kayu alam. Hal ini terkait dengan illegal logging yang sampai saat ini belum bisa sepenuhnya dikendalikan. Tapi untuk HTI, mestinya rencana produksi sesuai dengan kapasitas produksi, terkecuali perusahaan yang bersangkutan sejak dari awal sudah overestimate terhadap produktivitas kayu yang dihasilkannya.

Kedua, intervensi melalui saluran diplomatik. Pejabat di kedubes asing sering kali ikut campur tangan terhadap masalah yang sebenarnya urusan bisnis murni. Pejabat lebih banyak hands off, menyerahkan mekanismenya secarabusiness to business. Keterlibatan pemerintah malah sering membuat posisi perusahaan dilemahkan. Di negara maju sekalipun, sudah menjadi rahasia umum bahwa pundi-pundi politisi sangat tergantung pada ‘sumbangan’ pemilik modal. Karena pemberian fasilitas di dalam negerinya selalu diawasi dengan ketat oleh lawan politik dan masyarakat setempat, maka yang paling mungkin dilakukan adalah kelangsungan proyek di negara berkembang. Masih teringat jelas tentang kasus sumbangan Grup Lippo pada saat kampanye presiden Bush. Karena itu, pesan-pesan khusus sering diterima pejabat kita.

Ketiga, melalui green mailing atau ancaman di pengadilan. Di pengadilan dalam negeri masalahnya adalah yang hitam jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam. Kalau kasusnya dibawa ke pengadilan internasional, seringkali kasusnya menjadi berkepanjangan karena bisa berpindah dari satu state ke state yang lainnya atau bahkan dari satu negara ke negara lainnya. Pihak yang berselisih tentunya akan selalu mencari celah hukum yang menguntungkan dirinya.

Keempat, dengan cara ancaman pembekuan aset di luar negeri dengan maksud untuk memaksakan segala syarat dalam negosiasi. Melalui pembekuan aset, jalur pasokan akan terhambat karena masalah pembiayaan. Akibatnya, produksi bisa berhenti. Dengan menciptakan kerugian, maka syarat negosiasi bisa dipaksakan. Kelima, yang paling umum dilakukan yaitu melalui kampanye publik bahwa kalau investor asing tidak dilindungi maka semua investor akan hengkang. Sayangnya kampanye ini sering ditelan mentah-mentah oleh pemerintah dan bahkan beberapa menteri ikut menyuarakannya. Kita seharusnya bisa melihat mana asing yang baik dan yang tidak.

Modus yang keenam dan mungkin yang paling mencelakakan adalah ketika menteri dan pejabat publik sudah menjadi bagian dari EHM (Kwik Kian Gie, 2005, Menggugat Mafia Barkeley). Fasilitas khusus bisa diberikan tanpa alasan yang jelas. Penurunan tarif bea masuk barang impor bisa diberikan kepada pihak tertentu sehingga bisa mematikan usaha pesaingnya.

Prilaku amoral yang disebutkan Perkins dalam bukunya:

  1. Membuat estimasi optimis tentang ekonomi sebuah negara dengan harapan mendapat kucuran dana pinjaman sebesar-besarnya yang mengakibatkan negara tersebut tidak mampu untuk membayar kembali utangnya.
  2. Sarana mereka meliputi antara lain rekayasa laporan keuangan yang menyesatkan, praktek penyuapan, pemerasan, agen penggermoan (wanita dan seks), serta pembunuhan terencana yang keji (Presiden Panama (Omar Torrijos) dan Presiden Ekuador (Jaime Roldos)). Para EHM seperti Perkins memainkan peranan yang telah menentukan dimensi baru dan mengerikan selama era globalisasi.
  3. Para agen EHM ini bekerja berdasarkan pesan sponsor dari negara adikuasa yang berniat mewujudkan sebuah imperium global untuk melakukan penyesatan skema ekonometrik agar hasil forecast-nya.
  4. Membuat sebuah negara terjebak dalam perangkap utang, sehingga kebijakan ekonominya mudah dikendalikan. Akhirnya, negara penerima utang itu menjadi target yang lunak ketika negara kreditor membutuhkan apa yang dikehendakinya, seperti pangkalan militer, suara di PBB, serta akses yang mudah untuk mengeksplorasi sumber daya alam (minyak bumi, gas, dan emas) yang dimiliki negara penerima utang.
  5. Berusaha membangkrutkan negara-negara penerima pinjaman raksasa (tentu setelah mereka membayar MAIN dan kontraktor AS lainya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkram oleh para kreditornya,
  6. Apabila tujuan belum juga dapat dicapai langkah akhir menggunakan kekuatan militer,

Disamping prilaku amoral yang telah disampaikan Perkins dalam bukunya ada juga prilaku amoral yang dapat kita temui di Indonesia dalam bentuk intervensi asing. Secara umum contoh intervensi asing dalam kasus pembuatan Undang-Undang menjadi sangat menarik untuk diamati. Intervensi asing ini dapat dikategorikan dalam lima kelompok:

a)     Intervensi G2G (Government to Government), yakni pemerintah asing secara langsung menekan pemerintah suatu negara agar memasukkan suatu klausul atau agenda dalam perundangannya. Contohnya adalah:

  • pernyataan bahwa Indonesia sarang teroris, baik yang dilontarkan AS, Australia maupun Singapura bertujuan untuk mendesak agar Indonesia menerapkan UU antiteroris yang lebih ketat,
  • kehadiran pejabat tinggi asing ke negeri ini (kedatangan Menlu AS Condoleeza Rice menjelang keputusan pemberian Blok Cepu kepada ExxonMobil,
  • pernyataan Perdana Menteri Australia John Howard tentang pembebasan Ustad Abu Bakar Baasir,
  • dalam kasus luar Indonesia adalah tekanan AS terhadap Cina untuk melepas kontrol pemerintah terhadap mata uang Yuan,

b)     Intervensi W2G (World to Government), yakni lembaga internasional (seperti PBB, WTO, IMF, Word Bank) yang mengambil peran penekan. W2G ini sedikit lebih “elegan” karena seakan-akan agenda yang ingin dipaksakan adalah kesepakatan-kesepakatan internasional. Orang yang tidak tahu lobi-lobi di balik kesepakatan internasional itu akan menganggap rekomendasi lembaga internasional itu sebagai sesuatu yang ideal karena memenuhi standar dan norma internasional (teori relativism). Mereka yang tidak mengikutinya bisa terkucilkan atau tidak lagi pantas untuk menerima menerima utang atau bantuan. Contoh nya:

  • agenda UU yang terkait globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan (UU Perbankan, UU Migas, UU Tenaga Listrik, UU Sumber Daya Air),
  • Kedatangan pejabat badan dunia ke negeri ini (seperti Michael Camdessus bertemu dengan Presiden Soeharto menjelang kejatuhannya),
  • diangkatnya mantan staf badan dunia ke dalam jajaran orang penting di negeri ini (misalnya menjadi menteri atau penasihat menteri di dalam Departemen),
  • diratifikasinya sejumlah aturan-aturan dari badan dunia ke dalam UU,
  • kekawatiran asing akan dampak RUU APP, pertanyaannya sekarang adalah mengapa mereka harus khawatir, kalau bukan karena pengesahan RUU APP itu akan mempersempit ruang gerak mereka dalam menjajakan budaya liberalnya (yakni pornografi dan pornoaksi atas nama kebebasan berekspresi dan HAM) di tengah-tengah mayarakat negeri ini yang notabene mayoritas muslim (contoh masuknya majalah-majalah porno afiliasi dengan majalah asing seperti playboy, FHM, ME dll).

c)     Intervensi B2G (Bussiness to Government), yakni dunia bisnis, baik bisnis yang memiliki jaringan internasional maupun bisnis yang hanya bergerak di lingkup domestik. Para pengusaha dan investor ini dapat menekan pemerintah agar memuluskan berbagai kepentingan mereka dalam undang-undang. Tidak jarang, pengusaha asing menggunakan mitra lokalnya untuk lebih lantang bersuara, agar tidak terkesan ada kepentingan asing di balik itu. Ancaman yang sering dimunculkan adalah memindahkan investasi ke negara lain yang beriklim lebih baik. Contohnya :

  • agenda UU yang terkait dengan investasi, perpajakan, dan perburuhan,
  • kedekatan sejumlah pengusaha yang bisnisnya terkait dengan asing (impor/ekspor) dengan pejabat atau memfasilitasi diskusi publik,
  • pengusaha mensponsori anggota DPR atau tim pembuat UU untuk studi banding ke LN melihat penerapan UU sejenis di LN,

d)     Intervensi N2G (Non Government Organization [NGO/LSM] to Government). Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, termasuk ormas-ormas, dapat menjadi kelompok penekan (pressure group) yang efektif pada pemerintah, badan legislatif, maupun badan yudikatif (seperti Mahkamah Konstitusi). Contohnya:

  • UU tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan penolakan RUU Anti Pornografi & Pornoaksi,
  • Kedekatan NGO atau tokoh-tokohnya dengan lembaga bantuan asing seperti Ford Foundation, Asia Foundation, USAID, AusAID, atau mereka yang pernah menerima sumbangan dari lembaga bantuan asing tersebut, misalnya dalam bentuk proyek tertentu (riset, pemberdayaan masyarakat, pendidikan dll),

e)     Intervensi I2G (Intelectual to Government). Kaum intelektual, para ilmuwan, lembaga konsultan, bahkan tokoh-tokoh agama dapat dipakai untuk menekan pemerintah agar meloloskan suatu agenda dalam perundangannya. Para birokrat dan perancang UU juga kadang-kadang diundang oleh pihak di luar negeri untuk melanjutkan sekolah atau sekadar studi banding dan bertemu dengan para pakar di luar negeri. Dalam pendidikan atau pertemuan itulah dapat terjadi intervensi secara sangat halus. Dalam kenyataannya, pola I2G ini adalah jenis intervensi asing yang paling rapi dan paling sulit dideteksi, karena yang akan muncul adalah keyakinan dari anak bangsa sendiri. Contohnya :

  • agenda UU Otonomi Daerah.
  • kedekatan intelektual dengan tokoh atau lembaga di luar negeri, baik sebagai murid ataupun guru.

Kadang-kadang beberapa jenis intervensi bersinergi. Ini artinya, otak kepentingan asing tersebut sangat cerdas sehingga bisa menggerakkan berbagai mesin intervensi sekaligus. Sebagai contoh seperti dijelaskan sebelumnya UU Privatisasi (Migas, SD Air) dapat digolkan melalui pendekatan W2G (oleh IMF atau Bank Dunia dengan alasan globalisasi), B2G (dengan alasan membuka iklim investasi), dan I2G (dengan konsultan yang memberikan prediksi bahwa kondisi fiskal negara ke depan akan lebih sehat dengan privatisasi BUMN-BUMN melalui BPPN/PPA). Dalam kasus RUU Pemerintahan Aceh bahkan ada indikasi pihak asing telah menggunakan seluruh mesin intervensinya melalui kucuran bantuan yang sangat besar melalui lembaga-lembaga tersebut.

Selain dengan melacak pola kedekatan, intervensi asing juga tercium dari kepentingan. Secara umum, kepentingan utama di balik intervensi asing ini adalah untuk mendapatkan akses atas eksploitasi kekayaan alam yang lebih luas, pasar yang lebih lebar, dan ujungnya ketergantungan pada mereka (para kapitalis besar). Inilah motif utama kapitalisme (Soros, 2000). Contoh nyata dari kasus ini adalah eksploitasi SDA oleh Freeport, Newmont, Shell, BP dan masuknya ExxonMobile ke blok Cepu.

Untuk menyukseskan misi ini, diperlukan politik sekular yang makin kokoh dengan jargon demokrasi, HAM, liberalisasi, kemiskinan dan sejenisnya (hypernoms). Dengan permainan inilah para kapitalis akan lebih leluasa memainkan “bidak-bidaknya”. Lalu agar tidak timbul kebangkitan generasi muda yang akan melakukan perlawanan sistematis atas kondisi ini (seperti kondisi Indonesia tahun 1998 dan tragedi penembakan mahasiswa di Cina), generasi muda juga dirusak masa depannya dengan liberalisasi sosial misalnya dengan penolakan pembatasan pornografi dan pornoaksi (penolakan RUU APP). Pada saat yang sama, gerakan-gerakan kritis, terutama yang berbasis pada Islam, akan ditekan dengan UU antiterorisme (desas-desus pembubaran organisasi massa yang dianggap anarkis). Dengan demikian, semakin optimallah usaha asing menjajah kembali bangsa ini.

Contoh jelas Blok Cepu yang sekarang telah dikuasai oleh ExxonMobil. Pemerintah memberikan pernyataan bahwa keputusan di Blok Cepu adalah B to B atau business to business agreement. Disini terlihat ketidakkonsistenan pemerintah. Jika keputusan tersebut adalah B to B, yaitu antara Pertamina dan pihak ExxonMobil, maka seharusnya Pertamina tidak mendapatkan intervensi lebih jauh dari pemerintah. Namun kenyataannya adalah direktur Pertamina sebelumnya yang tidak setuju terhadap penyerahan operasional Blok Cepu ke tangan ExxonMobil, malah diganti oleh pemerintah dengan direktur baru beberapa saat sebelum terealisasinya kesepakatan yang ada sekarang.

Contoh lain melalui UU Migas, misalnya, Pertamina, yang notabene perusahaan milik rakyat, saat ini bukan pemain tunggal. Pertamina kini harus bersaing dengan perusahaan asing seperti Shell, ExxonMobil, BP atau Petronas yang bermodal raksasa. Dengan UU ini pula kemudian Blok Cepu diberikan oleh Pemerintah pada ExxonMobil.

Melalui UU SD Air, kini beberapa daerah kesulitan pasokan air, baik di pedesaan maupun di perkotaan, karena penggunaan air kini diatur oleh mekanisme harga, artinya yang dialiri hanyalah yang mampu memberikan nilai ekonomis tertinggi, yaitu pabrik-pabrik air kemasan yang juga banyak mulai dimiliki asing (Contoh Dadone). Contoh lebih parah adalah pemberian hak konsesi eksploitasi SDA di Papua kepada PT. Freeport sejak tahun 1970an.

Noam Chomsky (2005) dalam bukunya Imperial Ambition menjelaskan tentang adanya a new norm, semacam taktik ideologis yang dipropagandakan oleh pemerintah Amerika kepada negara lain guna mendukung langkah imperialistisnya. Seperti dalam kasus invasi ke Irak dan Afghanistan, pemerintah Amerika mendoktrin publik dunia dengan norma yang mereka buat sendiri yang disebut preemventive war. Melalui propaganda yang gencar dan massal, Amerika mengarahkan publik dunia untuk bersama-sama berpikir bahwa Amerika benar dan Irak salah. Pada akhirnya publik dunia mendukung langkah Amerika. Propaganda inilah senjata favorit Amerika. Berita hangat dengan motif hampir sama adalah tekanan Amerika terhadap Iran untuk tidak melakukan pengembangan uranium. Dengan dalih ini kemungkinan besar dapat dijadikan kambing hitam untuk menduduki negara tersebut yang secara nyata memiliki kandungan minyak cukup besar di Timur Tengah. Propaganda adalah salah satu cara yang efektif untuk mengarahkan pikiran manusia, menjadikan mereka seperti robot yang mudah diperintah berbuat apa saja.

Peran dan tindakan yang harus dilakukan oleh seorang calon ilmuan untuk menegakkan etika kehidupan.

Globalisasi ekonomi perupakan kata kunci yang selalu didengar dan disosialisasikan ke seluruh dunia oleh negara-negara maju.  Setidaknya efek realnya baru akan terasa pada jangka panjang. Namun, jika kepentingan asing lebih dominan maka dapat ditebak, bahwa dalam waktu singkat globalisasi sudah pasti akan menimbulkan malapetaka luas bagi masyarakat yang masih memiliki kelemahan ekonomi. Suatu malapetaka yang barangkali sulit diperbaiki (irreversible) dinama barang-barang dalam negeri yang kalah efisien akan sulit bersaing dengan derasnya barang impor. Indikasi ini sudah mulai terlihat tanpa kita dapat kuasa untuk membendungnya.

Sebagai seorang calon ilmuan tanda-tanda globalisasi hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana. Yang terpenting adalah memanfaatkan kondisi tersebut menjadi sebuah peluang untuk mencari “samudera-samudera biru” (blue ocean strategy) dan bukan malah menganggap sebagai sebuah ancaman (W. Chang Kim & Renee Maugorgne, 2006). Meminimalkan persaingan terbuka (red ocean strategy) dengan memperbanyak inovasi melalui kerja keras, cerdas dan ikhlas. Kemampuan seorang ilmuan dalam memegang tangung jawab sosial harus dapat menerjemahkan ilmu yang dimiliki kedalam peran kemasyarakatan. Ilmu pengetahuan merupakan berkah dan memiliki nilai bagi kehidupan manusia tentunya dengan tidak meninggalkan tata nilai, etika, moral dan filosofi. Manusia wajib hukumnya mencari ilmu dan mengamalkannya dalam arti positif kepada sesama manusia. Jika dalam perkembangannya jika pemahaman ini telah menyimpang atau bahkan hilang, sudah pasti hal itu merupakan tanda-tanda kiamat seperti dikatakan dalam Hadits riwayat Anas bin Malik sebagai berikut:

Rasulullah pernah berkata: “Diantara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu, maraknya kebodohan, merajalelanya perzinahan, banyaknya orang minum minuman keras…..” (Shahih Muslim, 2005).

Bidang keilmuan harus ditelaah secara konsisten. Ilmuan harus bertindak secara persuasif dan argumentatif berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, bukan malah menyesatkan seperti yang dilakukan oleh para EHM. Ilmuan memiliki kemampuan menganalisis kegiatan-kegiatan yang bersifat non produktif menjadi kegiatan yang berdaya guna bagi kehidupan manusia. Kalaupun memang pinjaman yang akan diberikan bagi negara-negara dunia ke tiga sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR), maka seharusnya dilakukan secara benar dan ikhlas sebagai sebuah bentuk tanggung jawab moral terhadap sesama. Inilah yang disebut sebagai konsep “terima – kasih”, yaitu menerima sebagai bagian dari sebuah kegiatan kerja keras dan menyalurkan sebagian harta kepada yang berhak sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan. Allah SWT di dalam Al Qur’an menyebutkan secara jelas konsep ini dalam Surat At-Taubah, ayat 122 sebagai berikut:

“Mengapa sebagian orang-orang beriman tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama dan kemudian setelah itu memberikan peringatan kepada orang lain agar mereka itu dapat saling menjaga dirinya”.

Dari ayat tersebut dikatakan bahwa sebagian orang-orang yang memiliki pemahaman lebih (ilmuan) sebaiknya memperdalam ilmunya untuk kemudian dipakai di jalan kebaikan dan membimbing yang lain untuk menuju pada arah yang sama. Sehingga benang merah yang dapat diambil dari jalan hidup yang telah digariskan Allah sebagai bagian dari fitrah manusia dalam tanggung jawabnya di bidang keilmuan (E. Gumbira Sai’d, 2006) dan sekaligus pesan yang dapat ditanggap dari buku John Perkins adalah :

a)     Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara:

  • Berpikir untuk menemukan kebenaran,
  • Melakukan penelitian dan pengembangan,
  • Selalu menumbuhkan sikap positif dan konstruktif,
  • Meningkatkan nilai tambah dan produktivitas,
  • Konsisten dengan proses penelaahan keilmuan,
  • Menguasai bagian kajian keilmuannya secara mendalam,
  • Mengkaji dan mengikuti perkembangan teknologi secara rinci,
  • Bersifat terbuka dan profesional,
  • Dan yang paling penting mempublikasikan hasil temuannya untuk kehidupan manusia. (Bagian dari pesan yang disampaikan Allah dalam QS At Tahubah ayat 122 di atas).

b)     Meningkatkan kesejahteraan msayarakat dengan cara :

  • Menemukan dan memecahkan masalah yang sedang atau akan dihadapi masyarakat dan mengkomunikasikannya,
  • Membantu meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat,
  • Memanfaatkan hasil-hasil temuannya untuk kepentingan kemanusiaan,
  • Mengungkapkan kebenaran dengan segala konsekuensinya.

Ilmuan memiliki kewajiban moral yang bersifat mutlak dalam menegakkan etika sesuai dengan hati nurani.  Kewajiban tersebut bersifat objektif, rasional dan komprehensif. Dikaitkan dengan kondisi yang diciptakan para EHM dalam buku John Perkins, maka tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang calon ilmuan dalam melihat kondisi di atas adalah antara lain:

  1. Waspada terhadap masuknya pengaruh-pengaruh asing yang dapat melemahkan kemampuan negara untuk berkembang,
  2. Melakukan koreksi pandangan jika terdapat kemungkinan terjadinya penguasaan asing terhadap aset negara,
  3. Memberikan kritisi terhadap kemungkinan masuknya pengaruh asing dalam sendi-sendir kehidupan masyarakat,
  4. Meningkatkan kekuatan negara dalam mengembangkan SDM dalam mengelola SDA agar dapat bersaing secara global,
  5. Tindakan preventif yang dapat dilakukan dalam menegakkan etika dalam kehidupan menurut adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia-akherat dan melakukan sinergi kesinambungan antara Keyakinan, Aksi dan Pekerti (fikr, mikr dan dzikr) melalui kolaborasi kesatuan ruh dari Sang Pencipta (Abu Sangkan, 2005). Hal ini diharapkan menghasilkan pola kepemimpinan Kubik atau  disebut sebagai kepemimpinan profetik (Farid Poniman dkk, 2006) yang menjadikan keutuhan dan kelengkapan manusia dihadapan Tuhan-nya.

Jakarta, 12 Oktober 2006

Memompa Motivasi Diri dengan Tetaplah Merasa Lapar & Bodoh…

Umur kita sudah semakin tua, namun rasanya belum banyak yang bisa kita perbuat untuk memberikan nilai lebih baik untuk diri sendiri, keluarga atau bahkan masyarakat. Saring timbul dalam pikiran kita beberapa pertanyaan seperti berikut ini:

  • Saya sudah bekerja keras secara maksimal, tetapi saya merasa hidup saya tetap tidak menjadi lebih baik,
  • Ketika saya bekerja semakin keras lagi setiap harinya tetapi pekerjaan itu seakan juga tidak pernah ada habisnya,
  • Saya tahu bahwa saya bisa menjadi lebih baik, hanya saja saya tidak tau bagaimana caranya untuk menjadi lebih baik lagi,
  • Kemudian saya dalam keputusasan saya mulai berpikir, apa mungkin orang seperti saya bisa berhasil ??

Ucapan seperti itu bisa jadi adalah bisikan lisan yang pernah tersirat dalam diri kita, bisa jadi juga menjadi bahan keluh kesah hati kita. Kita sering ragu akan kemampuan diri untuk melakukan suatu perubahan. Jangankan membuat perubahan untuk lingkungan, membuat perubahan dalam hidup kita sendiri pun kadang merasa tidak mampu (misalnya merubah pola kerja yang sudah menjadi rutinitas kantor saja masih susah dilakukan apalagi merubah pola dan gaya hidupnya). Oleh sebab itu kita menjadi terperangkap ke dalam keterbatasan dan tidak bisa thinking out of the box. Untuk dapat keluar dari segala belenggu tersebut kadang dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Ada yang mulai tergerak untuk melakukan sebuah perubahan setelah membaca sebuah buku namun demikian diam saja tanpa melakukan apa-apa,
  • Sebagian lagi sudah bergerak menghidupkan aksinya namun tak lama kemudian hancur karena pekertinya rusak.

Untuk dapat keluar dari belenggu keterbatasan yang membuat kita tidak dapat jernih untuk berpikir dan menghasilkan sesuai yang baru untuk memacu semangat dan kreatifitas, maka sebaiknya kita memahami QS. Ar-Ra’du (13):11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nikmat yang ada pada suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaannya…..”. Oleh sebab itu kita harus selalu berusaha untuk menghasilkan suatu yang bernilai lebih. Disitulah kadang kita lupa bahwa kita adalah manusia dan kita adalah mahluk Allah yang paling sempurna. QS. Al Baqarah (2):30, “….Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi….”

QS. Al An’aam (6): 165, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian dari kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajad untuk mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu…..”

Kadang kita terlena dan tidak bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Kita seakan terdoktrin bahwa nikmat itu mesti ada ukurannya dan ukurannya adalah uang (ini doktrin kapitalis yang telah tertanam dalam diri kita melalui sistem pendidikan yang kita lalui selama ini). Sistem pendidikan mendoktrin kita dari kecil mengenai time value of money. Kita tidak sadar bahwa nikmat itu bisa berupa (QS. Arrahman (55): 1-30) :

  • Kesehatan,
  • Kebahagiaan,
  • Kebebasan dari celaka dan bencana dll.

Untuk itu kita perlu sebuah motivasi untuk membangkitkan kekuatan diri terlepas dari belenggu hegemoni pemikiran kapitalis tersebut untuk meraih sukses dan kemuliaan hidup di dunia & akherat yang mampu menghilangkan kegelisahan2 dalam diri kita. Dan kuncinya adalah bahwa setiap manusia pada dasarnya harus terlebih dahulu dapat memimpin dirinya baru kemudian mengelola hidupnya. Efektif harus mendahului efisien. Dimulai dari yang kecil2 dari diri sendiri (Konsep Aagym).

Sebagai seorang pemimpin keluarga kita harus menempatkan kepemimpinan (leadership) di depan lalu kemudian melakukan pengelolaan (managerialship). Sebuah Hadits: Tiap2 anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorah yahudi, nasrani atau majusi. Layaknya seorang nahkoda arahkan dulu kapal ke mana akan berlabuh, kemudian memotivasi yang lain setelah itu melakukan delegasi. HR. Tirmidzi, Abu Daud, Bukhari & Muslim, “setiap orang dari kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggungjawab terhadap kepemimpinan itu”.

Terinspirasi setelah membaca kembali kubu Kubik Leadership karangan Jamil Azzaini dkk yang merupakan salah satu buku favorit saya untuk kembali memompa motivasi dalam menyusun proposal hidup tahun 2010, maka ada tiga anatomi kepemimpinan dalam hidup membentuk sebuah sistem 3 dimensi yang disebut kubik (kubus) yaitu:

Pertama:

Pimpin keyakinan (akar pohon) → prinsip rukun iman (Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rosul, hari akhir dan takdir→ Hadits Riwayat Muslim (Arbain No. 3)). Prinsip dan nilai misi suci hidup kita. Merupakan pintu gerbang masuknya energi dan sebagai pengokoh keseluruhan sistem hidup manusia. Misalnya sebuah pohon agar kuat mula-mula akar harus dapat menopang struktur tubuhnya agar kuat diterpa badai. Segala sesuatu harus dimuai dari keyakinan, keyakinan memberikan kekuatan. Ada 3 prinsip.

  • Prinsip manusia → membantu kita menentukan pilihan2 hidup sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Karena prinsip hidup adalah pilihan (live is about choise). Untuk itu kita harus berilmu, bersyukur, bersabar dan berusaha (4 ber). QS. An-Mulk (67):23 “Katakanlah Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati tetapi amat sedikit kamu bersyukur”
  • Prinsip alam → mengajak manusia melihat bagaimana alam bekerja dan sujud kepada Allah (QS. An-Nahl (16):49, “ Dan hanya kepada Allah bersujud apa-apa yang di langit dan bumi ….”) dan bagaimana cara kita memanfaatkan alam ini sesuai fitrahnya yang digariskan Allah untuk kesejahteraan manusia,
  • Prinsip Tuhan → mengajak manusia melihat kaitan erat antara Tuhan dan mahluk serta bagaimana kita mengkases energi Tuhan melalui kalam-Nya dalam struktur media komunikasi sholat khusyu guna memperoleh kekuatan tanpa batas (buku sholat khusyu Abu Sankan). Manusia menjadi mahluk Tuhan yg sempurna karena memiliki unsur Tuhan dalam dirinya (ruh), QS. Shaad (38): 72, “Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dan sujud kepadanya”.

Kedua:

Pimpin aksi (batang, ranting dan daun pohon) → prinsip rukun Islam (sahadat, sholat, puasa, zakat dan haji). Sebagai transformasi energi secara sempurna untuk mengasilkan output baik positif atau negatif tergantung inputnya. Keyakinan memberikan kekuatan dan sebuah momentum aksi untuk melejitkan kekuatan itu (ingat hukum aksi & reaksi Newton… F=m.a). Konsep aksi meliputi 3 hal etos kerja yang pernah saya sebutkan sebelumnya (3 As):

  • Kerja keras → sebuah timbangan dengan titik tumpu ditengah dan sebuah beban diujungnya agar seimbang bagaimana caranya ? → diberikan beban yang sama di ujung lainnya (energi yang sama),
  • Kerja cerdas → jika ditambahkan beban lagi di salah satu ujungnya bagaimana agar seimbang ? → geser tumpuannya ke beban terberat,
  • Kerja ikhlas → jika ditambahkan beban lagi di ujung terberat bagaimana agar tetap seimbang tanpa menggeser tumpuan ? → mengeluarkan semua unsur2 negatif dalam dirinya dan ruang kosong yang ada dalam diri kita (ilustrasi beban terkecil dikeluarkan energi neg nya). Orang ikhlas adalah orang yang hatinya bersih suci dan tulus, tidak memiliki energi negatif dalam setiap perbuatannya karena di dalam dirinya hanya terdapat energi positif (saya terjemahkan dengan beramal ibadah kepada Allah). Dengan berpuasa diharapkan energi negatif hilang atau berkurang atau dengan naik haji (di padang arafah → hadits qudsyi).

Dinarasikan oleh Aisha, Allah berkata “Tidak ada satu haripun kecuali hari Arafah dimana ketika Allah membebaskan seluruh manusia dari neraka

Dengan demikian walaupun memiliki tingkat volume yang sama besar namun masa jenisnya (kerapatannya molekulnya) berbeda atau lebih besar karena diisi dengan amal ibadah sesuai yang dipetakan dalam Al Qur’an dan Hadits). QS. Albaqqrah (2): 177 “….. kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat2, kitab2, nabi2 dan meberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak2 yatim, orang2 miskin, musafir dan orang2 peminta2, mendirikan sholat, membayar zakat, menepati janji dan sabar….”

Ingat hukum kekekalan energi (HKE) → Jumlah Usaha = Hasil usaha. Semua energi yg kita keluarkan  pasti tidak akan pernah hilang. Bekerja → gaji, menolong orang → persahabatan, mengajar anak → anak menjadi saleh dan pintar. Berbuat jahat → celaka. AS Al-Israa (17):7 “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka sebenarnya keburukan itu untuk dirimu sendiri”.

Namun menurut saya ketika meninggal tidak nol. “Ketika meninggal hanya 3 perkara yang dibawa: amal sholeh, ilmu yang bermanfaat & anak2 yang shaleh yg mendoakan kepada kedua orang tuanya (Hadits Qudsyi)”.

Bila kita menguasai 3 As ini maka Insya Allah akan dapat memikul beban kerja berlipat2 tanpa mengeluarkan energi dan waktu tambahan serta menjalankannya dengan perasaan gembira.

Ketiga:

Pimpin pekerti (buah pohon) → prinsip surga dan neraka. Merupakan buah pekerti manusia. Meliputi sikap dan prilaku kita yang selalu positif (sikap dan prilaku nabi Muhammad SAW → “Sesungguhnya dalam diri Rosul itu ada suritauladan yang baik”), produktif (memanfaat seluruh aset diri yang dimiliki dan terus menciptakan hasil karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan umat manusia, hablum minannaas) dan kontributif yaitu memanfaatkan segala sesuatu yang dimiliki dan terus membantu, mendukung dan memberikan kontribusi kepada orang dan lingkungan. Hal ini tidak akan berhenti jika memiliki 4-TA (cinta, kata, tahta dan harta).

Ketiga anatomi tersebut harus dipimpin (di-manage), jangan dibiarkan ketiganya berjalan liar tanpa diarahkan. Petanya sudah ada yaitu Al Qur’an dan Hadits tinggal kita sekarang apakah mau membaca peta yang sudah diberikan agar tidak tersesat dan liar atau tidak. Kemampuan kita untuk memberikan arah yang tepat kepada ketiga anatomi kepemimpinan hidup tersebut akan membangkitkan kekuatan yang sangat dahsyat dan menjadikan kita khalifah seperti yang diamanatkan QS. Albaqarah (2): 30 di atas.

Maka prinsip utamanya sesuai dengan makna puasa adalah “tetaplah lapar dan tetaplah bodoh”. Karena dengan lapar kita akan selalu ingat kepada Allah dan mampu mensykuri nikmat melalui arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar (sederhana) akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih hidup yang lebih baik dan selalu terpagari untuk tidak berbuat negatif.

Dengan selalu berpikir bodoh menjadi tidak punya prasangka dan selau terbuka terhadap hal2 baru serta yang paling penting tidak pernah berhenti belajar. Orang pintar kadang menjadi suka berprasangka buruk, suka mengkritik tanpa memberikan solusi terbaik (ini gejala yang terjadi di Indonesia melalui adanya profesi pengamat).

Perhatikan QS. Al-Qashash (28):77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugrakhan kepadamu dan janganlah kamu melupakan bagianmu dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yg berbuat kerusakan”.

Indahnya Ciptaan Allah…

Ceritanya bengini. Ketiga anak saya, Salsa, Kanza dan Kayla beberapa waktu yang lalu oleh seorang tetangga dihadiahi seekor kucing jantan jenis persia berwarna coklat. Begitu senangnya seakan kucing itu saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Dalam perkembanannya kami melihat bahwa sudah saatnya kucing itu memiliki pasangan sesuai dengan fitrah yang telah digariskan Allah, sehingga liburan kemarin selama kurang lebih 2 hari kami “hunting” untuk mencarikan pasangan bagi “Ghozzy”, nama si kucing jantan milik kami.

Satu demi satu Pet Shop kami datangi namun belum satu pun kucing yang ditawarkan menarik perhatian kami. Sampai pada suatu saat kami mengunjungi salah seorang peternak kucing (cattery) pemula di daerah Depok yang ditemukan oleh anak sulung saya dari informasi internet. Subhanallah dari sana hadir sebuah pelajaran yang sangat luar biasa setelah melihat kegigihan seorang anak muda bernama Patria yang hidup bersama dengan sekitar 20an kucingnya dalam satu atap. Seakan tidak ada sekat antara hewan piaraannya dengan majikannya. Dari sana saya berpikir bahwa ternyata jika kita memperlakukan segala sesuatu yang ada di dunia ini sebagai sebuah ciptaan yang dapat saling hidup berdapingan, maka nikmat yang diberikan oleh Nya menjadikan kita sadar betapa indahnya hidup ini bila segala sesuatu dapat berjalan pada garis edarnya masing-masing sebagai sebuah simbiosa.

Seakan belum puas dengan kunjungan pertama kami ke tempat itu karena kucing yang kami taksir ternyata tidak diberikan oleh pemiliknya esok harinya kami meneruskan pencarian ke tempat lain. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sana dan berbekal data dan informasi yang kami peroleh dari “mbah Google” mata kami mulai tertuju ke salah satu tempat di daerah Rancamaya Ciawi. Menurut para peternak pemula ini di lokasi itulah cikal bakal kucing-kucing dengan ras bermutu tinggi berasal.

Sekali lagi mata kami dibuat terpesona dan hati kami dibuah luluh oleh keindahan ciptaan Allah yang dirawat oleh Bapak Muhammad Suwed sang pemilik cattery. Hebatnya lagi di tempat ini kucing tidak diperlakukan sebagai hewan piaraan, tetapi dianggap sebagai layaknya anggota keluarga lainnya. Bayangan awal saya yang memandang bahwa peternakan itu pasti jorok, tidak terawat dan kumuh seakan sangat jauh dengan kenyataannya.

Tahukah anda, bahwa di tempat ini ternyata selain terdapat kandang tempat dimana kucing-kucing bermain, terdapat pula tempat persalinan, tempat pemacakan, klinik dll. Subhanallah sekali lagi kami dibuat terpesona oleh Pak Suwed dan Istrinya yang memperlakukan kucing dengan penuh rasa kasih sayang. Hati saya tertaut dengan perkataan Allah dalam QS Ar Rahman “…. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?…”. Selama ini ternyata kita sudah banyak sekali mendustakan nikmat Nya…. Astaqfirullah hal adziim

Alhamdulillah liburan ini kami diberikan pelajaran yang sangat berharga dan indah untuk dapat kami bagikan. Betapapun adanya perbedaan ciptaan Allah, namun bukan berarti masing-masing “berbeda” karena peran yang telah ditulis dalam Lauh Mahfudz-Nya masing-masing memang harus berbeda, karena memang dunia ini perlu sebuah keseimbangan. Dimana satu dengan lainnya saling membutuhkan. Sehingga sudah selayaknya kita juga saling menghargai dan menyayangi antara sesama ciptaan Nya.

Seakan klop dengan kondisi bangsa saat ini yang perlu segera diwaspadai. Keprihatinan presiden SBY perlu kita cemati bersama-sama terlepas dari segala perasaan curiga-mencurigai yang tentunya akan membuat kita semakin lelah. Sudah saatnya kita mulai memikirkan sesama melalui tindakan nyata dan mengurangi prasangka buruk yang akan cenderung menjadi polemik dan fitnah. Dengan mulai belajar mendudukkan setiap masalah dalam kerangka sistem hukum yang berlaku sehingga mengurangi energi-energi negatif yang masuk dalam diri yang jika tidak dikurangi akan senan tiasa menggerogoti amal ibadah yang sudah kita tebarkan….