WRO 2011

Dukung Kanza dan Thariq ikut dalam World Robotic Olympiad 2011 untuk Indonesia

World Robotic Olympiad (WRO) adalah sebuah kegiatan robotik berskala internasional yang mengundang anak – anak dari berbagai negara untuk berlomba mengembangkan kreativitas mereka dalam membuat robot. Robot yang digunakan dalam kompetisi ini adalah berjenis Lego Education (LEGO Mindstorms NXT Education). Kategori dalam lomba adalah reguler category (terdiri dari elementary level, junior high), open category (senior high) dan yang terakhir adalah WRO GEN II fotball. Pada kesempatan ini SD Bakti Mulya 400 diwakili Kanza Putra dan Thariq Razan terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang WRO. SD Bakti Mulya 400 terpilih setelah berhasil melewati seleksi yang sangat ketat dalam ajang Indonesia Robotic Olympiad (IRO). Kategori yang diikuti adalah reguler category. Tujuan dari diadakannya kegiatan World Robotic Olympiad adalah:

  1. Sebagai salah satu kesempatan untuk siswa mengembangkan wawasan mereka tentang robot dan sistem robot di sekolah
  2. Mengenalkan kepada siswa tentang konsep pembelajaran scince yang lebih mengutamakan teknologi dan modernisasi.
  3. Memberikan kesempatan siswa untuk berfikir kreatif, mengembangkan komunikasi dan kemampuan bekerja sama dan dan menegmbangkan kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tinggi sesuai dengan arah perkembangan pendidikan.
  4. Mengumpulkan seluruh siswa yang berasal dari berbagai negara untuk  mengembangkan kreativitas mereka dan mengasah kemampuan  mereka dalam memecahkan masalah dengan menggunkan teknologi robot.
  5. Memperluas cara pandang siswa dalam mengaplikasikan science dan teknologi, mengembangkan cara pembelajaran dan mendorong mereka menjadi ilmuwan masa depan, insiyur mesin dan penemu.

World Robotic Olympiad akan dilaksanakan di Abu Dhabi National Exhibition Centre, tanggal 16 – 21 November 2011. Peserta WRO SD Bakti Mulya 400 terdiri dari dua orang siswa – siswa SD Bakti Mulya 400 adalah:

  1. Thariq Razan (kelas 5)
  2. Kanza Putra Audiandi (kelas 6)
Bila ingin berpatisipasi turut mendukung mereka dapat mewakili Indonesia dalam WRO 2011 di Abu Dhabi dapat menghubungi contact person sebagai berikut:
  1. Eddi Wahyudi (0811 9862 41)
  2. Dyan Septita (0858 8373 7979)
  3. Fahrul Roji (0817 1219 80)
DUKUNG MEREKA UNTUK INDONESIA !!

Pengalaman Mengikuti Indonesian Robotic Olympiad (IRO) 2011: Brain Machine (BM)-400

IRO (Indonesia Robot Olympiad) merupakan perhelatan tahunan kompetisi robotik tingkat nasional menggunakan robot Lego Education (LEGO Mindstorms NXT Education) sebagai bahan dasarnya. Kompetisi robotik ini diikuti oleh anak-anak tingkat SD, SMP, dan  SMA (usia 9-18). Kompetisi ini bertujuan untuk mengajak anak-anak muda dari seluruh Indonesia untuk mengembangkan kreatifitas mereka dalam hal keterampilan pemecahan masalah melalui sebuah kompetisi robot. Perhelatan IRO di Indonesia ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2004 dan tahun 2011 merupakan tahun ke delapan kegiatan tersebut dilaksanakan.

  • IRO2004 STMIK Mikroskil, Medan 02 Oktober 2004,
  • IRO2005 Sun Plaza mall, Medan 15-16 Oktober 2005,
  • IRO2006 Mall Taman Anggrek, Jakarta 16-17 September 2006,
  • IRO2007 Mall Taman Anggrek, Jakarta 23-24 Juni 2007,
  • IRO2008 Crystal Lagoon, Senayan City, Jakarta 05-06 Juli 2008,
  • IRO2009 Senayan City, Jakarta on 30 Juli – 09 Agustus 2009,
  • IRO2010 Gedung BPPT, Jakarta 14 Agustus 2010,
  • IRO2011 Gedung SMESCO, Jakarta 20 Agustus 2011.

Khusus tahun 2011 ini IRO masuk menjadi salah satu rangkaian kegiatan dari peringatan Harteknas (Hari Kebangkitan Tekhnologi Nasional) ke 16. Jumlah peserta yang mengikuti kompetisi ini sebanyak 305 siswa yang berasal dari beberapa kota besar di Indonesia  antara lain Medan, Lampung, Surabaya, Jakarta, Solo, Bali, Sidoarjo, Bogor, Bandung, dsb).

Kompetisi ini terselenggara ini tidak lepas dari beberapa dukungan yang berasal baik dari pihak Swasta maupun instansi pemerintahan yaitu Kementrian Riset dan Tekhnologi, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementrian Pendidikan Nasional dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Sedangkan pihak swasta yang mendukung penuh dalam acara ini adalah Mikrobot, STMIK Mikrosil, Bank OCBC NISP dalam program Mighty Savers sebagai sponsor utama dari acara ini, serta sponsor lainnya adalah ABC Alkalin. Khusus untuk Kanza dan Toriq mereka disponsori oleh SD Bhakti Mulia 400.

Pembukaan acara IRO dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2011 di SMESCO Building, Convention Hall Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta Selatan. Acara ini dibuka oleh ketua panitia, Bambang Rusli yang memaparkan sejarah tentang kegiatan IRO, sedangkan Ketua Harian KNIU, Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd memberikan motivasi peserta lomba dan mendorong agar kegiatan tersebut bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, karena kegiatan IRO sangat menarik, positif dan inovatif. Acara ini secara resmi dibuka dengan peluncuran pesawat robot udara oleh Deputi dari Kementrian Riset dan Tekhnologi. Pemenang dari kompetisi  tahun ini rencananya akan dikirim sebagai salah satu wakil Indonesia pada World Robotic Olympiad tahun 2011 di Abu Dhabi.

Dalam even yang diikuti oleh   305 siswa dari tingkat SD, SMP, dan SMA dari seluruh Indonesia tersebut, Kanza dan Toriq yang menampilkan robot dengan nama Brain Machine 400  (BM-400) berhasil menempati peringkat ke delapan dengan nilai sempurna hanya kalah dalam catatan waktu tempuh. Pencapaian ini merupakan prestasi tersendiri bagi keduanya mengingat BM 400 baru saja menekuni bidang robotik belum lama dan ini merupakan IRO ygn pertama kali mereka ikuti.

Kompetisi ini sebenarnya terbagi dalam 3 kategori. Katagori yang diikuti oleh tim BM-400 adalah untuk level elementary. Pada level ini para peserta diharuskan membuat robot yang dapat melewati maze labirint yang berliku-liku, membawa 3 bola pimpong yang berada di tiga titik yang berlainan dan mengambil 3 ring bonus serta membawanya ke kotak finish dalam waktu yang tercepat.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi mereka, dimana dalam kompetisi tersebut mereka tidak hanya dituntut terampil merakit dan memprogram robot agar dapat menyelesaikan tantangan yang diberikan namun juga dituntut untuk sabar, tekun dan menerapkan strategi jitu dalam hal pencatatan angka dan penyesuaian setting robot. Meskipun sudah melalui persiapan yang matang selama kurang lebih 1 bulan namun ternyata kondisi ketika kompetisi tetap berbeda dan menunut anak-anak untuk berpikir keras melakukan penyesuaian gerak dan model robot agar dapat bekerja dengan maksimal.

Hasilnya tidaklah terlalu mengecewakan bagi seorang pemula, Alhamdulillah wa Syukurillah meskipun mereka sempat kecewa karena last 30 menit terakhir masih menempati peringkat ke 3 namun hasil akhir yang anak-anak sendiri tidak menyadari ternyata mereka menempati peringkat ke delapan, kalah sekian detik dari rival di atasnya.

 

Namun demikian, berbekal pengalaman tersebut Alhamdulillah Kanza dan Toriq tetap memperoleh rekomendasi untuk dapat mewakili Indonesia mengikuti kompetisi World Robotic Olympiad tahun 2011 di Abu Dhabi yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-20 Npvember 2011. Mohon doa restunya agar mereka dapat memperoleh sponsor yang dapat mendukung keberangkatan mereka ke Abu Dhabi. Selamat berjuang anak-anakku semoga Allah membimbing kalian untuk meraih hasil yang terbaik untuk bangsa dan negara dimasa mendatang…. Amin Yaa Robbal Alamin…

Kanza dan Toriq bersama Kak Arul (Pembimbing Robotik BM-400)

TIM BM-400 bersama Ayah dan Kak fadli (Coach)

Anakku Kanza Putra Audiandi (11 Tahun) Peringkat 8 IRO 2011

Bedge BM-400

Suasana kompetisi IRO 2011, SMESCO Building

Doakan mereka dapat mewakili Indonesia di ajang WRO 2011 Abu Dhabi (http://wroboto.org/en/)

Link IRO 2011:

http://mikrobot.com/

http://www.facebook.com/profile.php?id=1502589610

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/08/24/mikrobot-gelar-indonesia-robotic-olympiad-ke-8/

http://www.mikrobot.com/gallery/

Bagian lain dari cerita masa kecilku (4): Perpustakaan Rajawali… by: wiwiem wintarto

http://www.facebook.com/notes/wiwien-wintarto/perpustakaan-rajawali/10150222086813379

Sebagai anak-anak, aku jauh lebih mudah tertarik pada buku daripada mainan. Di manapun aku berada, yang kucari pertama kali adalah buku atau koran atau majalah. Kalau ketemu, aku akan tenggelam dalam duniaku sendiri dan melupakan apapun yang ada di sekeliling. Dan saking begitu maniaknya, buku bacaan orang dewasa seperti cersil SH Mintardja pun ikut-ikutan kusikat pula!

Karena jarang beli sendiri, otomatis hubunganku jadi amat dekat dengan perpustakaan alias kios persewaan buku. Salah satu perpus langgananku adalah kios tanpa nama yang berlokasi di Blok A, kira-kira 300 meter dari rumahku di Blok F. Sisa uang saku pasti kupakai untuk meminjam buku di sana.

Kios itu terutama menyediakan komik dan sedikit novel. Tentu aku lebih tertarik pada komik daripada novel yang luar biasa tebal tapi isinya tulisan doang. Waktu itu yang sering kupinjam adalah komik-komik lokal versi kuno yang berukuran mungil setebal kira-kira 48 halaman dengan tiap halaman hanya berpanel dua.

Komik-komik karya Jan Mintaraga, Hasmi, Ganes Th, Tegoeh Santosa, atau Koes Bram itu sebagian besar berkisah tentang pendekar-pendekar silat. Tapi favoritku adalah komik-komik superhero lokal, kayak Gundala, Sembrani, Godam, atau Maza. Kadang ada juga versi lokal dari superhero Amerika. Spider-Man karya Stan Lee di-“recycle” menjadi Labah-labah Maut alias Lamaut dan Labah-labah Merah.

Tarif pinjam buku-buku komik itu Rp 25, dan biasanya terdiri atas empat volume, jadi satu kali pinjam keluar uang Rp 100. Yang 100 perak lagi sering kupakai untuk meminjam cerita bergambar Journey to the West. Itu, lho… kisah serial petualangan Sun Go Kong cs. Kalau sudah membawa pulang buku-buku itu ke rumah, aku bisa lupa diri. Kadang lupa belajar juga, hehe…

Maka masa keemasan peminjaman buku itu terjadi saat libur sangat panjang dari kelulusan SD menuju pendaftaran SMP. Karena tiap hari tak ada kegiatan, begitu bangun dan mandi ya langsung ke sana. Kadang-kadang bareng Bayu jika yang bersangkutan tengah menginap di Genuk.

Aku masih ingat sekali, pagi-pagi berangkat barengan ke kios persewaan. Begitu sampai rumah lagi, semua langsung jadi anteng karena sibuk membaca. Bapak pun bisa tenang menggambar komik si Kancil sambil memutar lagu-lagu jazz Ermy Kullit di tape player. Wah, sungguh kenangan yang tak bakal terlupakan…!

Dan sebagaimana yang terjadi dengan urusan perkartunan, membaca komik membuatku terinspirasi untuk bikin komik juga. Aku pun mulai menggambar komik superhero dengan tokoh bernama Kapten Bintara. Tak ingat aku dari mana dapat nama itu. Sepertinya dari berita-berita kriminal di koran yang kadang-kadang menyebut pangkat bintara polisi.

Namun karena era membaca komik dari persewaan buku di Blok A itu tak berlangsung lama, pekerjaanku menggambar komik pun hanya berusia seumur jagung. Seingatku komik Kapten Bintara baru rampung sekitar 25 halaman, sebelum aku kehilangan minat dan total berhenti. Sekarang manuskripnya sudah musnah. Barangkali karena terendam air banjir.

Tak hanya menjadi customer, aku juga pernah menjadi pengusaha persewaan buku. Embrionya terjadi saat masih tinggal di Blok B. Waktu itu ada salah satu teman Itok, namanya Arif, yang punya usaha kecil-kecilan persewaan buku. Suatu ketika, entah karena apa, usahanya harus berhenti, dan koleksi buku dan komiknya yang berjumlah puluhan itu untuk sementara dititipkan di garasi rumah kami.

Mendapat gratisan buku dalam jumlah sebanyak itu, meski hanya titipan, sudah pasti terasa seperti acara mabok-mabokan massal buatku. Aku sampai bingung mau baca yang mana dulu, terlebih karena sebagian besar adalah buku komik superhero Amerika seperti Superman, Batman, Justice League of America, The New Teen Titans, Legions of Super Heroes, dan juga All-Star Squadron terbitan Cypress.

Karena terlalu rajin baca komik, efeknya pun jelas: lupa belajar. Tak heran Bapak marah-marah dan menginstruksikan agar buku-buku itu dipulangkan ke Arif. Wah, rasanya seperti patah hati berpisah dengan kekasih tercinta waktu melepas buku-buku itu dibawa pulang Arif kembali. Untung sempat menyembunyikan beberapa biji di kamar, hehe…!

Beberapa waktu kemudian, aku bareng Eddi pernah membikin usaha perpustakaan sungguhan. Namanya Perpustakaan Rajawali. Entah mengapa rajawali, bukan elang, banteng, trenggiling, atau kuskus! Itu usaha betulan, karena Eddi sempat membuat stempelnya, sehingga berkesan serius dan tidak main-main.

Bila Eddi bikin stempel, aku membuat kartu anggota dan kartu kembali. Kartu anggota kubikin dengan kertas karton warna (merah jambu) dan mesin ketik yang dipinjam Bapak dari kantor. Sedang kartu kembali berbahan dasar kertas buram (CD) dan ditempel di balik kover belakang tiap buku. Di situ dituliskan tanggal ketika buku bersangkutan harus dikembalikan. Pada bagian atasnya aku ketikkan tulisan “DATE DUE”.

“Apa artinya ‘Date Due’?” tanya Itok heran.

“Nggak tahu,” aku menjawab polos.

“Lha, kenapa ditulis?”

“Niru buku-buku perpus Suara Merdeka!”

Bapak memang sering meminjam buku dari perpustakaan SM. Dan pada tiap buku memang terdapat lembar tanggal kembali itu, di mana pada bagian atasnya tertulis kalimat “DATE DUE”! Belakangan, kartu kembali kubuat dari kertas HVS dan tulisan pada bagian atasnya berganti menjadi “TANGGAL KEMBALI”.

Salah satu aktivitas yang paling mengasyikkan saat itu adalah memberi nomor katalog buku. Sistem penomoran adalah huruf paling awal judul buku, nomor yang menunjukkan urutan masuk buku itu dalam katalog, dan inisial judul. Jadi misal ada novel berjudul Misteri Rumah Kuno dicatat pada urutan keempat, maka nomor katalognya adalah M-4-MKN. Waktu itu range harga sewa berkisar antara Rp 25 hingga Rp 400 perbuku.

Koleksi kami lumayan juga, mendekati 100-an buku. Tempat sewa bisa di rumah Eddi atau di rumahku. Sedang para anggota perpustakaan sebagian besar adalah teman-teman sekelas waktu di SD dan awal-awal masa SMP. Sayang karena kami sama-sama sibuk dengan tugas sekolah, usaha perpustakaan akhirnya gulung tikar dengan sendirinya.

Sisa buku era Perpustakaan Rajawali masih ada yang bertahan selamat sampai sekarang, lengkap dengan nomor katalog dan harga sewanya, yang kutulis dengan bolpoin.

Berpetualang di bumi Sumatera Barat (1): Pantai Carocok, Painan

Para traveler dan petualang keindahan alam ciptaan Allah SWT, saat ini saya mengajak anda untuk sejenak menikmati keindahan sebuah pantai yang terletak di kota Painan. Painan adalah ibukota Kabupaten Pesisir Selatan sekaligus ibukota kecamatan IV Jurai, jaraknya dari kota Padang sekitar 75 Km. Jika anda bepergian menggunakan mobil dengan kecepatan rata-rata hanya akan menghabiskan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Topografi kota Painan berbentuk seperti kue mangkuk. Posisi kotanya berada disekeliling perbukitan hijau dan disebelah baratnya terbentang samudera yang sangat indah.

Kota Painan diapit oleh dua aliran sungai yaitu Sungai Batang Pinang Gadang dan Sungai Batang Pinang Ketek. Sungai ini berasal dari Timbulun yang mempunyai air terjun sebanyak tujuh tingkat. Melalui Timbulun ini kota Painan dapat dilalui ke Alahan Panjang. Aliran sungai ini bermuara ke pantai Carocok dan pantai Muaro Painan. Dan keduanya menuju ke Teluk Painan yang sangat tenang karena diapit juga olehBukit Langkisau dan pincuran boga.

Menurut sejarahnya, nama Painan berasal dari kata ‘paik’ (pahit) dan ‘nian’ (sangat, amat, sekali) yang maksudnya ‘pahit sekali’ (pahitnya kehidupan di daerah Painan yang umumnya terdiri dari rawa-rawa. Ucapan ‘paik nian’ itu merupakan ucapan dari orang-orang selatan Pesisir Selatan yang merantau ke Painan, ditandai dari kata ‘nian’ (sebuah kosakata yang biasa diucapkan oleh selatan dan melayu. Pada tahun 1523 di Painan sudah berdiri sebuah surau, lembaga pendidikan agama di Minangkabau. Pada abad 16 ini pula, Pulau Cingkuk di Painan menjadi pelabuhan kapal international yang berjaya sebagai pelabuhan emas Salido.

Pada tahun 1660, Belanda pernah berkeinginan untuk memindahkan kantor perwakilan mereka dari Aceh ke Kota Padang dengan alasan lokasi dan udara yang lebih baik namun keinginan ini ditolak oleh penguasa kota Padang hingga akhirnya mereka berkantor di Salido. Perjanjian Painan pada tahun 1663 yang diprakarsai oleh Groenewegen yang membuka pintu bagi Belanda untuk mendirikan loji di kota Padang, selain kantor perwakilan mereka di Tiku dan Pariaman. Dengan alasan keamaman kantor perwakilan di kota Padang dipindahkan ke pulau Cingkuk hingga pada tahun 1667 dipindahkan lagi ke kota Padang. Bangunan itu terbakar pada tahun 1669 dan dibangun kembali setahun kemudian. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Painan)

Jika anda berkesempatan mengunjungi Sumatera Barat jangan lupa mampir ke pantai Carocok yang terletak disebelah barat kota Painan. Pantai ini sepertinya cukup terkenal di Sumatera Barat. Menurut saya pantai Carocok ini tidak kalah dari pantai lain di Bali atau Papua.Dalam kawasan objek wisata pantai Carocok Painan ini Juga terdapat sebuah bukit yang cukup terkenal pula yaitu bukit Langkisau. Bukit ini merupakan lokasi kegemaran para penghobi olah raga paralayang.

Sekitar 200 meter ke arah barat pantai Carocok ini terdapat sebuah pulau kecil bersejarah, yaitu pulau Cingkuk. Dipulau ini dapat kita jumpai bekas-bekas reruntuhan benteng Portugis. Menurut sejarah pertama kali Portugis menjejakan kakinya di pesisir pulau Sumatera adalah di pulau Cingkuk ini. Pulau kecil yang berpasir putih cukup bersih, indah dan sangat tenang ini sangat ramai dikunjungi orang untuk berwisata terutama pada saat hari libur. Berbagai kegiatan dapat dilakukan di pulau ini mulai dari mandi air laut, banana boat, menyelam sampai memancing dapat dilakukan disini.

Untuk mencapai pulau ini sangat mudah, anda cukup berdiri di ujung jembatan wisata pantai Carocok Painan yang berada dihadapan pulau Cingkuk dan kemudian beberapa orang tukang perahu bermesin tempel akan menghampiri anda. Kemudian mereka akan menawarkan jasanya untuk mengantarkan anda ke pulau Cingkuk cukup dengan Rp.10.000,- per orang pulang pergi. Nah jangan lupa jika suatu saat berkunjung ke kota Padang jangan sampai anda melewatkan lokasi indah ini.

Bagian lain cerita masa kecilku (3): Panik… by: Wiwien Wintarto

http://www.facebook.com/notes/wiwien-wintarto/panik/10150198511623379

Pada awal dasawarsa 1980-an, Semarang dikenal sebagai sentra pembenihan (kayak buat udang windu aja…!) kartunis-kartunis handal berkelas nasional. Banyak kartunis berilmu tinggi yang sekarang ngetop berasal dari Kota Lunpia. Waktu itu mereka bermunculan lewat Tawa itu Sehat, rubrik kartun di Minggu Ini, edisi Minggu koran Suara Merdeka (sekarang menjadi tabloid Cempaka Minggu Ini).

Selain kartunis, yang saat itu juga ikut berkibar adalah kelompok-kelompoknya. Mereka bergabung dalam berbagai grup kartunis. Dengan join ke grup, akses menembus MI bisa lebih gampang daripada jika berusaha sendiri. Salah satu kartunis yang paling terkenal adalah Edy PR (sudah almarhum) dari kelompok kartunis Pokal (aku sudah lupa ini singkatan dari apa, tapi sepertinya berasal dari Kaliwungu, Kendal).

Grup kartunis lain yang juga sering tampil adalah Secac (Semarang Cartoonist Club) dan Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Aku sangat mengikuti perkembangan dunia kartun karena pekerjaan Bapak di SM ketika itu adalah menjadi redaktur rubrik kartun di MI.

Hampir tiap hari Bapak membawa pulang amplop atau bahkan tas besar berisi kiriman kartun dari segala penjuru dunia dan akherat! Satu kartunis bisa mengirim lebih dari satu kali dalam seminggu, dan masing-masing kiriman memuat antara 10 sampai 20 lembar gambar kartun. Sebelum diseleksi Bapak untuk dimuat, aku hobi melihat-lihat semuanya dan ketawa-ketawa sendiri.

Selain almarhum Edy PR, ada beberapa nama lain yang masih kuingat sampai sekarang. Yang paling sering berkirim kartun adalah seorang kartunis dari Solo bernama Supriyanto GS. Sekarang dia ngetop sebagai motivator dan budayawan dengan nama beken Prie GS. Ada lagi kartunis lain dari Kendal, yaitu Itos Boedy Santoso.

Karena sebagai anak komikus tentunya aku juga bisa menggambar, Bapak lantas menyuruhku untuk ikut bikin kartun juga, nanti pasti dimuat (nepotisme, haha…!). Aku pun segera beli kertas karton dan memotong-motongnya ke dalam ukuran sekitar 20 x 20 senti. Teknik gambarnya meniru Bapak, yaitu pakai pensil dulu sebagai sketsa, baru kemudian menggunakan pena merek Rapido yang berdiameter 0,5 milimeter. Sesudah gambar jadi, bekas pensil dihapus pakai setip alias penghapus karet (biasanya merek Staedtler!).

Namun menggambar dengan Rapido sangatlah sulit. Aku mengalami kesulitan memainkan ujung penanya yang sangat kuecil itu. Sementara menggunakan spidol susah juga, karena hasil goresannya terlalu besar dan gambar buatanku menjadi amat tak rapi. Untung kemudian muncul ke pasaran pena legendaris bernama Boxy yang buatku amat gampang digoreskan. Untuk seterusnya, aku pun berpindah ke Boxy dan meninggalkan Rapido serta spidol.

Sesudah bersenjatakan Boxy, aku mulai menggambar kartun. Tokoh kartunku adalah seorang cowok gundul berhidung besar mirip Bagong. Name tag-ku waktu itu Top ’84 (angka menunjukkan tahun ketika gambar itu dibuat, jadi akan terus berganti). Dari beberapa gambar yang kuserahkan ke Bapak, hanya satu yang dimuat di Tawa itu Sehat.

Kalau tak salah ingat, kartun pertamaku waktu itu terdiri atas dua panel. Pada panel pertama, tampak seseorang membawa buku melangkah mantap penuh senyum mengikuti arah papan penunjuk jalan yang bertuliskan “Perguruan Tinggi”. Pada panel kedua, ia kaget melihat perguruan tinggi itu ternyata sejenis bangunan rumah panggung yang memang luar biasa tinggi di atas tanah!

Honor pemuatan satu gambar kartun pada masa itu adalah Rp 2.000 (mungkin setara dengan Rp 100 ribu dengan kurs sekarang). Honornya tak langsung kuterima, tapi disimpan Ibu. Setelah terkumpul agak banyak dari hasil pemuatan selama beberapa edisi, duitnya lantas dibeliin celana.

Itulah untuk kali pertama aku bisa beli sesuatu dari duit sendiri. Bapak selalu mengatakan, segala sesuatu yang hasil buatan sendiri pasti lebih memuaskan, begitu pula kalau kita bisa membeli barang-barang dari duit yang kita hasilkan sendiri, bukan dari uang saku ortu.

Dan yang dikatakannya memang sangat betul. Rasanya bangga sekali bisa memakai celana itu. Sepertinya sah banget milik sendiri dan bukan pemberian. Momen itu sangat membentuk karakterku. Sesudah itu aku selalu terpacu untuk sebisa mungkin selalu mencari penghasilan sendiri.

Kebetulan pula Bapak juga menginstruksikan agar aku segera mencari skill andalanku. Menurut pendapatnya, orang hidup harus punya satu skill keahlian agar tidak lagi mencari pekerjaan tapi justru dicari-cari pekerjaan. Contohnya adalah dirinya sendiri, yang dengan skill menggambarnya bisa hidup layak dan yang namanya pekerjaan selalu mudah dicari.

Segera setelah aku, beberapa anak lain menyusul bikin kartun untuk dimuat Bapak di MI. Itok pastinya kena jatah “otomatis” juga, lalu Eddi. Yang belakangan juga ikut karena pintar menggambar pula adalah Pratmono alias Mono, teman sekelasku di kelas VI SD Gebangsari.

Sehabis pulang sekolah dan makan siang, kami pasti berkumpul di rumah Eddi sambil membawa kertas karton dan Boxy sendiri-sendiri, lalu bikin kartun rame-rame. Satu anak bisa bikin sampai lima lembar. Kalau sudah selesai, kartun-kartun kukumpulkan untuk kuserahkan pada Bapak. Hari Minggu-nya kami bisa jadi anak paling bahagia sedunia jika bisa melihat gambar bikinan kami nongol di koran dan bikin ketawa puluhan ribu pembaca MI (plus bayangan akan nerima honor!).

Karena kerap dimuat barengan, timbul ide untuk ikut-ikutan bikin kelompok juga. Dengan cepat kami nemu nama Panik, singkatan dari Paguyuban Kartunis Genuk (kan kami warga Kecamatan Genuk!). Anggotanya ya empat anak ini: Eddi, Mono, Itok, dan aku. Tiap bikin kartun, kami harus selalu menyertakan nama Panik (dengan simbol heart di atas huruf ”I”) di bawah name tag masing-masing. Jelas bangga melihat nama itu nampang di koran bareng Secac, Pokal, atau Kokkang!

Sayang Panik tidak berumur panjang. Namanya juga anak-anak, belum bisa serius menekuni sesuatu. Apalagi waktu itu kami lantas disibukkan dengan ujian akhir SD dan pendaftaran ke SMP. Lupa pulalah berkartun-ria. Seingatku, terakhir kali aku menggambar kartun adalah pas kelas I SMP (pakai nama Top ’85) sebelum kemudian banting setir mempelajari teknik nulis novel.

Bagian lain cerita masa kecilku (2): Cerdas Cermat P4… by: Wiwien Wintarto

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150190745168379&comments&cmntid=10150193484153379&notif_t=comment_mention

Ada dua hal yang sangat khas pada era Orde Baru zaman pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu P4 dan cerdas cermat.

P4 adalah singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Pada dasarnya ini panduan untuk melaksanakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tapi karena didesain terlalu rigid dan formal, P4 malah menjadi indoktrinasi mental yang menjurus ke arah brainwash massal mirip di negara-negara diktatorial absolut.

Sedang cerdas cermat adalah sebangsa kuis pendidikan untuk anak sekolah. Peserta biasanya terdiri atas tiga regu, yang masing-masing beranggotakan dua personel (satu juru bicara bareng dua pendamping di kanan-kiri). Mereka harus menjawab serangkaian pertanyaan yang masing-masing bernilai 100 poin.

Cerdas cermat kali pertama muncul lewat TVRI dengan beragam nama. Ada Cerdas Cermat untuk level SMP, Cepat Tepat untuk level SMA, dan Tebak Tepat di TVRI Stasiun Yogyakarta. Kuis ini sangat populer pada era 1980-an. Tentu belum cair, lucu, dan menghibur seperti kuis-kuis zaman sekarang. Kala itu penyajiannya masih amat formal, kaku, dan cenderung lugu. Anda pasti tertawa terbahak-bahak kalau menyaksikannya!

Nah, pada akhir masa sekolahku di kelas V, aku sempat menjadi bagian ketika kedua hal tersebut dijadikan satu ke dalam even LCT (Lomba Cerdas Cermat) P4 tingkat SD. Karena berdasar fitnah aku dianggap berotak encer, aku dipanggil masuk “timnas” LCT P4 SD Gebangsari. Eddi juga ikut dipanggil.

Kami akan diikutsertakan mengikuti LCT P4 tingkat SD tahun 1983 untuk bertarung di tingkat Dapen. Aku tak pernah tahu apa kepanjangan Dapen itu. Mungkin Daerah Pendidikan. Zona kami bertanding adalah Dapen B, yang jika keluar sebagai juara akan bertanding di tingkat Kecamatan Genuk, lalu mendaki terus hingga ke level kota (waktu itu sebutannya Kotamadya), provinsi, dan lantas kompetisi nasional se-Indonesia.

Seluruh anggota tim kemudian mengikuti latihan marathon dan seleksi ketat di bawah bimbingan “coach” Pak Nasuha, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang galak dan bersuara keras. Kami disuruh menghapal ratusan butir pertanyaan mengenai P4 yang mungkin akan diberikan pas perlombaan. Sesudah itu, kami mengikuti simulasi permainan cerdas tangkas mirip suasana sesungguhnya di lapangan.

Sesudah diseleksi, aku lolos masuk tim inti. Aku turun di tim SD Gebangsari I (waktu itu SD-ku terdiri atas tiga lokal) bareng Yayuk dan seorang teman lagi yang sayang aku lupa namanya. Aku bertindak sebagai juru bicara. Eddi juga lolos. Ia main di tim SD Gebangsari II bareng Yusuf dan Gemini (ini cewek!). Satu tim lagi mewakili SD Gebangsari III dihuni oleh Reza dan dua teman lain. Tim III beranggotakan anak-anak kelas IV, sedang yang lain-lain sudah di kelas V semua.

Perlombaan di Dapen B mengambil tempat di SD Trimulyo, kira-kira 4 kilometer dari SD Gebangsari, dan digeber dalam dua hari. Aku lupa hari dan tanggalnya. Kalau tak salah sekitar bulan Maret 1983, pada hari Senin dan Selasa. Perlombaan langsung masuk perempat final, sehingga para pemenang langsung maju ke semifinal.

Tim II bertanding duluan melawan dua tim lain. Eddi cs melaju dengan mulus. Timku turun bermain di sesi berikutnya. Lawan kami justru Tim III dan satu lagi tim dari SD lain. Bagai dapat durian runtuh, daftar pertanyaan yang diberikan ke timku pas babak pertanyaan wajib persis salah satu draf soal yang paling kuhapal luar kepala pas latihan, dengan urutan nomor pertanyaan yang sama sekali tak beda.

Tak heran 15 pertanyaan kusikat habis dan bikin semua orang mendesis penuh kekaguman. Itu rekor, karena di babak ini biasanya pasti ada dua atau tiga pertanyaan yang dijawab salah. Timku melaju mulus 100%. Orang-orang pasti berpikir ini tim jenius, padahal hanya karena sudah telanjur hapal!

Dan sesudah melewati babak pertanyaan lemparan dan pertanyaan rebutan (di mana jika salah menjawab maka skor akan dikurangi 100), timku menang dengan poin 2.100. Ini juga rekor, karena hingga perlombaan berakhir, tak ada satu tim pun kecuali timku yang membawa pulang di atas 2.000 poin.

Maka dua tim SD Gebangsari maju ke semifinal dan berpeluang membuat all-Gebangsari-final. Dan melihat betapa mulusnya timku melaju, pihak sekolah kami yakin hal itu akan jadi kenyataan.

“Wah, kayaknya kita akan tarung di final, nih!” cetus Eddi sesudah timku selesai main.

“Oh, tentu saja!” sahutku jumawa. “Dan kamu akan kalah, hehe…!”

Eddi tertawa. “Sialan!”

Di semifinal, kebetulan timku jumpa SD tuan rumah. Dan beda dari drawing pas babak sebelumnya, semifinal masing-masing hanya mempertemukan dua tim, jadi pertarungan sangat menegangkan. Masih terlena kemenangan pas perempat final, aku maju terlalu pede. Sayangnya, pagi sebelum berangkat sekolah aku tak sempat sarapan, entah karena apa.

Baru pas turun main sekitar pukul 10, efek tak sarapan terasa. Perut keroncongan dan membuat konsentrasi buyar. Sudah begitu, kami diteror suporter tuan rumah. Jawabanku benar atau salah, selalu disambut seruan “boooooo….!” atau “whuuuuu….!”. Dan tiap kali tim lawan meraih angka, bunyi tepuk tangan luar biasa berisik mengganggu kuping.

Akhirnya timku kalah. Itu pertama kalinya dalam hidup aku menelan pil pahit yang bernama kekalahan, mirip Bayern Munchen pas kalah dari MU di final Liga Champions 1998/99 yang dramatis itu. Untung tim I menang di semifinal dan keluar sebagai juara pula setelah mengalahkan SD Trimulyo di grand final.

Sekolahku pun berhak mewakili Dapen B ke perlombaan tingkat kecamatan. Dan tim kami dioplos lagi. Meski gagal, aku tetap dimasukkan tim inti bareng Eddi dan Yusuf dengan Yusuf menjadi juru bicara. Kami akhirnya keluar sebagai juara III. Hadiahnya piagam yang ditandatangani Walikota Semarang waktu itu, Pak Iman Soeparto Tjakrajoeda dan Tabanas Budaya di Bank Bumi Daya (sekarang jadi Bank Mandiri) senilai Rp 5.000 yang kala itu sungguh terasa seperti 5 miliar di benakku.

Tentu senang bisa juara, tapi kenangan pahit kekalahan terus membayang. Apalagi si Reza (yang adalah teman sekelas Itok) teruuuus saja mengungkit-ungkitnya tiap main ke rumah.

“Kemarin itu kamu kok bisa kalah kenapa sih, Mas?” demikian selalu ia bertanya, dengan nada polos tapi nyelekit.

“Padahal kan harusnya gampang. Kalau kamu menang, di final kita bisa tarung lawan teman sendiri, timnya Mas Eddi dan Mas Yusuf. Gimana sih, Mas? Kok bisa kalah tu, lho. Padahal kan…”

Dan aku pun hanya bisa menggeram, lalu melengos menjauhinya.

Bagian lain dari cerita masa kecilku (1):CV. Eka Jaya Sakti… by Wiwien Wintarto

http://www.facebook.com/notes/wiwien-wintarto/cv-eka-jaya-sakti/10150180862348379

Di Semarang, aku masuk sekolah di SD Gebangsari I. Gebangsari adalah kelurahan sebelah. Rumahku sendiri, yang ada di Blok B Genuk Indah, masuk wilayah kelurahan Muktiharjo, di Kecamatan Genuk. Jarak sekolah mayan jauh dari rumah, dan harus ditempuh jalan kaki. Makanya kalau pas sekolah, aku dan Itok selalu berangkat pagiiii banget supaya tidak terlambat.

Teman pertamaku di SD Gebangsari adalah Eddi Wahyudi, tetangga juga di Genuk Indah. Rumahnya di Blok E, dekat sekali dari rumah. Keluarga Eddi punya satu peralatan yang saat itu terlihat mirip keajaiban dari surga buatku, yaitu video player.

Asli, pas pertama kali diajak nonton film bareng teman-teman sekelas, aku tidak percaya bahwa ada suatu alat untuk memutar film tanpa perlu lampu sorot dari proyektor. Tak percaya bahwa umat manusia sanggup menciptakan satu peranti sehebat itu! Terlebih waktu melihat kasetnya, aku makin kagum. Gede banget! Mirip kaset musik (kaset audio), hanya jauh lebih besar.

Aku kian pusing saking herannya waktu dikasih tahu bahwa perangkat video bisa dipakai pula untuk merekam acara TV. Jadi acara favorit seperti film, lagu-lagu, atau dagelan Srimulat bisa diabadikan sehingga dapat ditonton berkali-kali. Wah, gile…!

Saat itu, tiap kali aku dan teman-teman sekolah kumpul di rumah Eddi, yang kerap ditonton adalah film kung fu Hong Kong, macam film-filmnya Jackie Chan atau Bruce Lee. Namanya juga anak-anak. Sesudah nonton film kung fu, tangan dan kaki tahu-tahu jadi penuh aroma perkelahian. Sampai tiba di rumah, tetap saja mainnya adu jotos sambil ber-“ciat-ciaaat!” heboh sekali.

Waktu itu yang paling bikin aku sebal adalah kalau ada teman yang sudah nonton filmnya dan berperan sebagai spoiler hidup alias hobi banget membocorkan jalan cerita. “Nha, ini nanti lakonnya dipukul sampai hampir mati!”. “Ntar abis ini kan mobilnya meledak!”. Etc, etc. Huuh… mangkel! Rasanya pengin melempar anak itu hidup-hidup ke jumbleng yang ada di Janan!

Eddi adalah sahabat real pertama yang kupunyai seumur hidup. Maksudnya, teman tak hanya sekadar teman nongkrong dan main, namun juga teman berbagi ide. Seingatku, dengan dia, ada banyak sekali gagasan cemerlang—yang seharusnya belum terpikirkan oleh anak-anak usia 11 tahunan—yang sudah terlintas dan sama-sama dilakukan bareng.

Salah satu ide kami yang paling brilian adalah “menerbitkan” buku. Idenya muncul setelah nonton film horor, lalu dia usul bagaimana kalau kami bikin buku cerita horor. Misal berjudul Misteri Rumah Hantu, Misteri Rumah Tua, and so on. Besoknya Eddi membeli buku tulis baru dan menuliskan judul itu di halaman depannya.

Aku juga tak mau kalah dan ikut membeli buku tulis baru (buku tulis biru cap Banteng—buku tulis paling populer saat itu!) untuk membuat sebuah “buku cerita”. Karena ingin sungguh-sungguh terlihat macam buku sungguhan, maka segala persyaratan buku cetak kami ikuti.

Di halaman depan harus ada gambar ilustrasi dan desain sampul, lalu halaman judul, lalu halaman kredit, dan juga halaman daftar isi. Di halaman kredit harus ada nama pengarang, nama ilustrator, nama penerbit, nama percetakan, dan juga edisi cetakan ke berapa dan tahun berapa buku bersangkutan itu.

Kami sempat agak bingung menentukan nama “perusahaan” penerbitan kami itu. Cerita belakangan. Yang penting nemu nama penerbit dulu.

“Gimana kalau CV Eka Jaya Sakti?” kata Eddi memberi usul.

“Oke juga, tuh,” jawabku. “Tapi kenapa namanya itu?”

“Ya bagus aja. Eka yang selalu jaya dan sakti. Hebat, kan?”

“Iya, sih. Trus, nyetaknya di situ juga?”

“Iya. Ini perusahaan penerbit sekaligus punya percetakan.”

“Oke, deh. Ayo, mulai ditulis!”

Dan mulailah kami bersama-sama menulis cerita. Tapi ceritaku tak jadi horor, melainkan melodrama anak-anak. Judulnya Yang Dinanti Datanglah Jua, tentang seorang anak perempuan bernama Ana yang mendapat teman baru di rumah sebelah. Tak tahunya sang teman baru ini adalah kakak kandungnya yang diadopsi orang lain. Mereka terpisah bertahun-tahun lalu waktu desa mereka dilanda banjir.

Novel itu dikarang oleh Sutopo Wintarto (belum nemu nama pena Wiwien Wintarto). Ilustrasi oleh Sutopo Wintarto juga. Gambar-gambarnya sungguh lucu. Lebih lucu karena ceritanya cukup tertampung dalam satu buku persis. Dan ending tamatnya juga tepat di halaman belakang. “Novel” antik tersebut masih ada sampai sekarang. Kusimpan sebagai kenang-kenangan penting karena dari sinilah salah satu tonggak paling awal yang menentukan tempatku berada sekarang ini.

Yang agak janggal adalah periode waktunya. Di halaman kredit tertulis buku itu diterbitkan pertama kali bulan Desember 1982. Tapi di bagian belakang, time tag dari penulis pada bagian ending tertulis “Semarang, Februari 1983”. Jadi novel itu diterbitin dulu dan baru ending-nya diselesaikan belakangan, hehe…!

Mengenai nasib buku cerita karangan Eddi, aku sendiri tak begitu ingat sekarang ini. Sepertinya buku itu tak pernah selesai. Sungguh sayang…

It feels like home…

ImageMinggu lalu Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk hadir kembali ditengah-tengah keluarga besar Universitas Islam Indonesia bersama guru-guru saya. Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat hadir kembali di Universitas Islam Indonesia, It feels like home. Seakan baru beberapa saat yang lalu saya melewatkan wisuda pertama saya di kampus tercinta ini. Kampus yang memberikan kebebasan berpikir dan berekspresi tanpa adanya sekat-sekat tertentu ini ternyata sudah 16 tahun lalu saya tinggalkan, namun semangat dan auranya masih kental terasa sampai sekarang. Saya merupakan bagian dari keluarga besar UII, saya masuk UII pada tahun 1990 di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, lulus pertama kalinya diangkatan saya pada tahun 1995. Bergetar juga rasanya hati ini didaulat untuk memberikan orasi di hadapan 640 wisudawan S1, S2 dan S3, serta di hadapan guru besar . Simak ulasannya di: http://www.uii.ac.id/content/view/1366/257/ (“Wisudawan UII Dituntut Untuk Menjadi Insan Loyal Dan Profesional”). Namun perasaan itu hanya sejenak terlintas di hati saya, karena Alhamdulillah sambutan yang diberikan atas pidato itu cukup baik. Terlebih lagi rasa kangen saya dan istri terhadap kampus ini seakan terobati sete;ah kami bertemu dengan guru-guru pembimbing seperti Pak Bachnas dan Pak Bambang Sulistiono serta lainnya. Wow kampus UII semakin lama semakin besar dan indah apalagi setelah ditemukan sebuah candi di dalam lingkungannya.

Pada acara Wisuda UII periode ke IV TA 2010/2011 yang bertempat di gedung Auditorium Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII Sleman, sabtu (23/4), dihadiri pula oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Drs. Muhaimin Iskandar, M.Si. Sedangkan saya ditunjuk untuk memberikan sambutan mewakili Keluarga Alumnus UII.  UII sebagai salah satu universitas yang memiliki alumnus berintegritas yang tinggi telah memberikan berbagai kontribusi positif bagi beberapa instansi penting di Indonesia. Menurut data yang diperoleh dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia tahun 2010, UII telah berhasil menempatkan 32 orang lulusannya di Kementrian Keuangan Republik Indonesia atau menempati peringkat kedua dari 58 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Seleksi kerja tersebut terdiri dari 6 tahapan seleksi dan hanya 543 orang (0,45%) saja yang diterima di Direktorat Jenderal Pajak dari 120.000 orang pelamar on line. Saya sangat bangga dengan data ini dan hal itu membuat saya semakin yakin bahwa lulusan UII Insya Allah memiliki integritas yang tinggi dan program yang dijalankan is already on the right track.

Upaya UII mewujudkan World Class University salah satunya dilakukan melalui pemantapan landasan riset yang kuat dan pengelolaan yang handal dengan melakukan pendalaman implementasi SAP-ERP ke Pohang University of Science and Technology (Postech), di kota Pohang, Korea Selatan. UII juga melakukan studi ke universitas mitra, yakni Solbridge International School of Business, Woosong University di Daejon, Korea Selatan dalam kaitannya pengembangan teaching university berkaliber internasional dengan atmosfir global. Selain itu UII juga telah menginisiasi kolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi di Turki dan Cyprus yakni Istanbul Technical University (ITU), Middle Eas Technical University (METU), Near Est University (NEU) dan Eastern Mediterranian University (EMU). Demikian diungkapkan oleh Rektor Prof. Edy Suandi Hamid.

Selamat untuk UII semoga segera menjadi World Class University, dan semoga lulusannya selalu memegang teguh integritas dan loyalitas dimanapun mereka berada. Terima kasih atas undangannya…

Selamat Hari Ibu…

Setiap muslim mungkin sudah tidak asing lagi mendengar doa yang satu ini. Ya ini adalah doa untuk ibu-bapak yang selalu kita ucapkan ketika selesai sholat. Allahumma firli zunubi waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shogira,  “Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil”. Hati ini seakan luluh dan haru setiap mendengar doa ini diucapkan oleh Lyla anakku yang paling kecil. Doa ini pun yang saya panjatkan pagi ini untuk ibu…

Semoga Allah SWT mengampunkan dosa-dosanya, memaafkan kesalahannya, dan mengasihinya sebagaimana beliau mengasihi saya dalam suasana suka maupun duka, serta semoga cahaya rembulan dimatanya tetap abadi, selamanya.  Setidaknya di ruang hati kami beserta anak-anaknya.

 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil’” (Al-isra’:23-24)

Selamat hari ibu untuk ibuku, istri ibu  dari anak-anakku  serta sahabat ibu-ibu seluruh Indonesia…