Selamat Jalan Sahabatku…

Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Sahabat tercinta, cukup kaget rasanya mendengar dikau dirawat di ICU beberapa hari lalu dan karena jarak pula lah saya tidak bisa menengokmu untuk terakhir kalinya. Salah satu senyum terakhir yang sempat kau berikan kepada kami semua adalah ketika kau hadir dalam silaturahmi ALSE 90 di rumah Diany, sabtu tanggal 25 September 2010 Jam 11.00-15.00, ternyata itu lah kali terakhirnya kami bisa bertemu dengan mu kawan…. Kami ALSTE 90 tidak bisa memberikan apa-apa kecualil doa. Satu hal yang pasti kami sedih mendengar kepergiaanmu, namun kami percaya bahwa Allah paling tau tentang segala sesuatunya.

Subhanallah….. Rupanya Allah lebih sayang padamu sehingga memintamu untuk pergi-pagi ini di hari yang mulia Jum’at 3 Desember 2010. Aku begitu iri, karena engkau pergi pada hari Jumat. Hari yang sangat mulia dimana doa yang dipanjatkan di hari jumat dijamin oleh Allah. Engkau pergi disaat umat muslim akan melaksanakan shalat jum’at. Begitu indah janji Allah bila ada manusia yang meninggal di hari Jumat.

Karena engkau meninggal hari ini,  maka Insya Allah engkau menjadi manusia mulia. Manusia yang dijanjikan Allah sebagai manusia yang berakhir khusnul khatimah. Nabi bersabda,”Tidaklah diantara seorang Muslim yang meninggal pada Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah memeliharanya dari fitnah kubur.” (Riwayat Ahmad).

Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkan dia, ampunilah dan tempatkanlah di tempat yang mulia serta luaskan kuburannya. Bersihkan dia dari beberapa kesalahan, sebagaimana engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka (HR. Muslim 2/663)

Selamat jalan sahabat… selamat menempuh kehidupan baru. Semoga engkau mendapat tempat yang sangat layak di sisi Allah SWT. Semoga keluargamu pun sabar dan  tabah menerima kepergianmu ini. Kami  juga akan menyusulmu suatu saat kelak, lambat atau cepat.. Semoga kamipun bisa berakhir di hari yang indah ini. Sepertimu teman…..Amin

(Posting ini untuk sahabat ALSTE 90 yang ceria dengan selalu memanggul kameranya disetiap acara: Rawuh Makaryo. Meninggal Jumat pagi , 03.12.2010)

Selamat menyempurnakan sisa hidup bersama belahan jiwa…

Dari Hadits Riwayat Baihaqi dikatakan bahwa “ketika seseorang telah menikah, maka dia telah menyempurnakan separuh agama. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Alloh dalam separuh yang tersisa“…

Menikah adalah sunah yang telah ditentukan oleh Alloh dijadikan sebagai sarana untuk menyempurnakan agama, menjaga harga diri, terampuni dosa dan mempererat tali silaturahmi dengan skema keluarga yang lebih luas…

Pernikahan merupakan penyatuan dua hati yang tentunya memiliki perbedaan namun yang tidak harus menjadi sama, karena perbedaan itulah yang membuat dua hati dan dua jiwa saling menghargai, mengasihi dan menyayangi….

Bagi seorang insan, pernikahan adalah salah satu anugrah terbaik yang pernah Alloh berikan. Alloh berikan seorang pasangan hidup untuk menemani disisa hidupnya.. Untuk menapaki hari-hari bersama, seperti mimpi indah yang tak bertepi…..

Belahan jiwa sudah dipertemukan Alloh dengan pasangan jiwanya, yang sebelumnya sudah dituliskan dalam Lauh Mahfudz-Nya jauh sebelum dia dilahirkan ke dunia ini…. kekasih terbaik datang disaat yang tepat, dan hanya DIA yang Maha Tahu..

Semoga pasangan ini selalu berada dalam genggaman-Nya….ditetapkan dan diluruskan hatinya untuk selalu dalam koridor Sunnah Rosul-Nya…untuk saling menjaga, saling mengisi dan saling mengasihi… Santika, 13 Nov 2010

Indahnya Jalan Allah…

Pagi ini seperti biasa kegiatannku di awal hari adalah membuka inbox. Disaat semangat sedang diuji dengan kegundahan, ada seorang sahabat yang mengirimkan tulisan ini dan kemudian membawa saya untuk berusaha membuat kurva sigmoid baru untuk mengawali hari… Semoga anda pun dapat merasakan manfaat yang sama & semoga Allah melimpahkan berkah serta rahmat Nya kepada kita semua. Amin..

“Aku Minta Pada Allah swt. Setangkai Bunga Segar, Dia Memberi Kaktus,

Aku Minta Pada Allah Hewan Mungil Nan Cantik, Dia Beri Ulat Berbulu.

Aku Sempat Sedih , Kecewa Dan Protes,

Betapa Tak Adillnya Ini,

Namun Kemudian Kaktus Itu Berbunga,

Dan Ulat Menjadi Kupu-Kupu.

Sungguh Cantik Sekali.

Itulah Jalan Allah Swt.

Indah Pada Waktunya.

Itulah jalan Tuhan, indah pada masa yang ditetapkanNYA.

Tuhan tidak memberi apa yang kita harapkan tapi DIA memberi apa yang kita perlukan.

Kadang-kadang kita rasa sedih, kecewa dan terluka…

Tapi yang sebenarnya, DIA sedang mengatur yang TERBAIK dalam kehidupan kita.”

From my friend: Heru satmiko (UII)….

Bersihnya Hati….

Tulisan ini terinspirasi setelah mengikuti pengajian Aisha bersama istri yang dibimbing oleh Ustad AaGym di BSD hari Sabtu kemarin. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendengar tausiah beliau. Tausiah yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana namun Subahanallah sangat menyentuh hati dan menjadikan saya tidak tahan untuk tidak mengucurkan air mata, terutama ketika diingatkan melalui doa yang dibacakan oleh beliau diakhir acara. Beliau memang cukup piawai mencari cara untuk menguji Tauhid kita dengan jalan mengundang Sdr. Atang yang secara fisik tidak dapat melihat namun kemampuan untuk bermusik dan ibadahnya luar biasa, malu rasanya kita orang yang masih tergolong muda dibuat olehnya.

Pertemuan dengan Atang ini merupakan yang kedua kalinya, namun di rumah inilah saya baru meilhat kehebatan luar biasa baik dalam bernyayi, berbisnis maupun beribadah. Melalui tutur kata yang sederhana dalam memaknai nikmat Allah melalui syukur dengan segala kekurangan yang dimiliki namun begitu besar dampak yang ditumbulkannya untuk orang lain. Seakan dia sudah bekerja melebihi SOP yang diberikan Allah kepadanya, Subhanallah.

Mata hati Atang ini begitu tajam melihat peluang melebihi manusia normal lain. Karena memiliki hati yang Insya Allah bersih. Benar perkataan AaGym bahwa jika kita bersih hati maka Insya Allah kita:

  • Akan peka terhadap siapa saja dan firasat kita akan tajam,
  • Mudah nyambung dengan orang lain,
  • Akan memperoleh nikmatnya ibadah,
  • Akan dapat melihat takdir-takdir menjadi lebih jelas. Karena kita sudah dekat dengan Allah otomatis segala informasi yang kita butuhkan akan diberikan oleh Allah,
  • Akan masuk surga. Karena orang masuk surga bukan karena pintar tapi karena bersih hatinya.

Jangan sampai kita pernah berpikiran seperti ini ”orang lain naik pangkat, kita malah naik tensi…. orang lain tambah mobil baru, kita malah tambah penyakit baru”. Ini tanda-tanda orang yang hatinya penuh iri dan dengki. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang-orang yang seperti itu… cape dee…

Pernahkan anda merasakan suatu kondisi yang menurut anda sudah tidak ada jalan keluar ? Nah pada saat itulah tauhid kita benar-benar diuji sampai benar-benar menyerah dan taubat. Tidak ada satu kejadian pun yang diluar kekuasaan Nya. Karena pada dasarnya semua kepahitan yang menimpa itu merupakan penggugur dosa. Keutamaan manusia dapat tubat adalah hatinya akan mantap (bersih) dan selalu akan ada jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah berfirman dalam QS Ath-Thalaq (65) ayat  2-3 yang Artinya “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengada-kan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. Syarat untuk dapat bersih hati menurut tausiah beliau antara lain:

  • Harus memiliki tekad yang kuat untuk menuju ke arah itu,
  • Harus memiliki ilmu yang cukup agar tidak menyimpang dari syariat,
  • Harus melakukan mujahadah kepada Allah,
  • Harus berada pada lingkungan yang mendukung untuk bersih hati,
  • Hatus didorong dengan kekuatan doa… Jadi ingat lagunya D’Masiv kesukaan anak saya Kayla yang judulnya ”Jangan menyerah”.

Bersih hati harus dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga, karena tugas suami untuk menjaga keluarga dari api neraka. Salah satu kalimat indah yang sempat keluar dari mulut Atang yang membuat saya tersentak seperti terpukul adalah ”kita jangan sampai lupa mengingatkan kepada anggota keluarga bahwa suami itu bukan merupakan sumber rizki, tapi sama-sama sebagai pemakan rizki”. Karena sumber rizki itu semata-mata hanya dari Allah, sehingga pola pemikiran seperti di atas perlu direformasi segera, jika tidak akan timbul sikap syirik. Ingat sebuah hadist bahwa Allah akan mendekat 1000 kali dari langkah hambanya yang mendekat padanya. Sehingga kalau kita tidak berusaha untuk mendekatinya maka Allah tidak akan mendekat dan rizki akan semakin jauh.

Pada dasarnya mendekat kepada Allah sangat mudah dilakukan dibandingkan dengan mendekat kepada manusia. Karena manusia yang mendekat itu kadang pasti ada maunya. Contoh jelas yang selama ini dapat kita lihat adalah kasus Susno Duaji. Ketika dia menjadi Kabareskrim semua orang ingin dekat kepadanya karena ingin mencari dan menggunakan pengaruhnya. Tetapi bagaimana sekarang ? mungkin semua orang akan menjauhinya karena takut terkait-kait dengan masalah hukum yang sedang dihadapinya.

Jadi hidayah akan turun atau tidak tergantung dari manusianya juga, apakah mau membuka diri untuk menerimnya atau tidak. Ibaratnya sama seperti cahaya matahari pagi yang akan menyinari bumi. Cahaya sehat tersebut akan masuk ke dalam rumah tergantung dari si pemilik rumah sendiri mau membuka jendela rumahnya atau tidak.

Pernyataan ini menjadi sangat menarik lagi setelah saya kaitkan dengan tausiah yang pernah saya dengar dari ustad Dr. Adian Parlingungan di pengajian Lintas Alumni Medan-Semarang yang diselenggarakan di Avenue Boutique Suryo. Bahwa kalau kita bersih hati maka saya rasa akan sangat mudah untuk kita dapat menyamakan frekuensi kita dengan Allah, sehingga segala manfaat seperti dijelaskan di awal tadi akan mudah kita peroleh.

Selama ini kita tidak sadar bahwa ternyata frekuensi kita masih sangat jauh dari Allah sehingga apa yang kita upayakan seakan masih jauh dari harapan. Kita sholat tapi hati masih gelisah, kita sudah sholat tetapi badan masih tidak segar, kita zakat tapi masih takut kalau harta kita akan berkurang. Hal ini menandakan bahwa frekuensi kita masih jauh dari frekuensi Allah. Maka untuk dapat menyamakannya salah satu caranya harus dengan bersih hati. Sehingga kita akan semakin peka, dapat menikmati ibadah dan Insya Allah masuk surga.

D’Masiv: “Jangan Menyerah”

“Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jangan kau sesali segala yang telah terjadi…. Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat. Seakan hidup ini tak ada artinya lagi…. Syukuri apa yang ada.  Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik….. Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan Kuasa Nya. Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa”

Subhanallah pelajaran yang sangat berharga di minggu awal tahun ini, semoga Allah SWT merahmati, Amin…

Renungan Menyambut Tahun 1431 Hijriah dan 2010 Masehi

Terinspirasi dari pengajian eksekutif Masjid Sahahuddin DJP 10 Desember 2009…..

Kematian adalah Sunnatullah yang merefleksikan kenyataan bahwa sebagai makhluk, kita tidak bisa sama dengan Pencipta. Adanya kematian disatu sisi mencerminkan adanya kehidupan di sisi lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap makhluk pada akhirnya akan mati, haruslah disadari pula bahwa ada dzat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati yang terus memberi kehidupan, yaitu Allah swt. Karena adanya kematian sudah merupakan ketetapan dari Allah swt. Dan kita tidak dapat menolaknya, maka kini tinggallah bagaimana cara kita untuk menghadapinya. Seorang penyair berkata bahwa setiap manusia, betapa pun panjang umurnya kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda. Pada hari tersebut seluruh makhluk kembali menghadap kepada Allah .

Tiap orang mesti sadar, bahwa ia akan mati. Itu sudah satu kepastian. Kapan, dimana, dan bagaimana hanyalah persoalan waktu, tempat dan cara. Masalahnya  adalah bahwa setiap kita tidak ada yang tahu kapan kita akan menghadapi kematian. Dimana maut akan menjemput kita, dan bagaimana kita mati. Itu sebabnya, karena kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati, maka kita harus senantiasa siap untuk itu, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun.

Sesungguhnya, kesadaran ini saja cukup untuk membuat seorang muslim senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah swt. Bila ia sadar bahwa ia akan mati namun tidak tahu kapan dan dimana maut menjemput, maka tentu ia akan berusaha tetap dalam kondisi taqwa, sehingga tatkala ajal datang ia akan termasuk orang yang cerita hidupnya di dunia tamat dengan happy ending (khusnul khatimah). Allah berfirman dalam Quran Surat Ali Imran ayat 185 : ”Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga,maka sungguh ia telah beruntung, Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

Jadi semua makhluk ciptaan Tuhan yang bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia semua akan menemui kematian, hal ini sudah merupakan sebuah siklus yang berjalan secara alamiah, manusia tidak akan mungkin hidup selamanya. Bagaimana perasaan anda jika besok atau bahkan setelah ini tiba-tiba maut menjemput ? Dengan sangat berhati-hati dan hanya bisa merenung dalam hati ditambah penuh rasa keraguan kita kemudian akan menjawab dengan jujur saja setengah takut setengah tidak, sebab siap tidak siap akhirnya kalau saatnya pun tiba ajal akan menjemput setiap orang harus mati juga kan ?

Sambungan ayat tersebut menerangkan bahwa janganlah kehidupan dunia ini membuat kamu lalai dengan kehidupan akhirat, sebab kehidupan yang sebenarnya justru kehidupan setelah mati, sedang kehidupan kita yang sekarang ini cuma sementara.  Makanya kita disuruh untuk mengingat mati, bukannya takut akan mati, karena kehidupan dunia ini akan berakhir pada kematian sedang kehidupan setelahnya itu adalah sebuah kehidupan yang kekal dan tak berakhir.

Namun sebelum melewati kehidupan itu, ada waktu di mana setiap manusia berpindah dari dimensi yang penuh tipu daya menuju dimensi abadi sesuai dengan amalannya. Pada waktu itu, manusia akan melayangkan pandangannya yang terakhir kali kepada anak dan kerabatnya, dirinya akan memandang dunia ini untuk kali yang terakhir. Di saat itulah, tanda-tanda sekarat akan nampak di wajahnya. Muncul rasa sakit dan tarikan nafas yang teramat dalam dari lubuk hatinya. Pada saat itu manusia akan mengetahui betapa hinanya dunia ini. Dan di saat itu pula, dirinya akan menyesali setiap waktu yang telah disia-siakannya selama ini.

Sebaiknya kita mengetahui bahwa sesungguhnya pengasingan yang sebenarnya adalah pengasingan dalam liang lahad tatkala diri dibungkus kain kafan. Tidakkah anda membayangkan bagaimana anda diletakkan di atas dipan, tiba-tiba tangan para handai taulan mengguncang tubuh anda (agar anda tersadar). Sekarat semakin keras anda alami dan kematian menarik ruh anda di setiap urat. Kemudian ruh tersebut kembali menuju kepada Pencipta-Nya.

Para kerabat pun datang dan siap menyalati anda, kemudian membawa dan menurunkan jasad anda ke dalam kubur. Didalam kubur sendirian, tanpa seorang pun yang menemani. Orang tua dan kerabat tidak lagi ada yang menemani. Di sanalah seorang akan merasakan keterasingan dan ketakutan yang luar biasa. Dalam sekejap, hamba akan berpindah dari sebuah dimensi dunia yang hina menuju sebuah dimensi lain yang dipenuhi kenikmatan jika dirinya termasuk seorang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal yang shalih. Atau sebaliknya, dia akan menuju sebuah dimensi kesengsaraan dan dipenuhi azab yang pedih, bila dirinya termasuk seorang yang buruk amalnya dan senang mendurhakai Sang Pencipta. Sisi kehidupan dunia yang menipu telah dilipat menjadi sebuah lembaran sejarah.  Namun perlu diingat tidak ada satupun dari rencana Allah berdimensi negatif, semuanya pasti indah, tinggal dari sisi mana kita melihatnya.

Mulailah menyadari dan rehatlah sejenak serta mari berintrospeksi diri. Jika kita termasuk golongan yang bersegera dalam melaksanakan ketaatan dan peribadatan kepada Allah serta menjauhi maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya, maka pujilah Allah atas nikmat tersebut, mohonlah keteguhan kepada-Nya hingga maut datang menjemput dan dengan seizin Allah kenikmatan akan anda raih tanpa ada yang merebutnya darimu. Namun, jika anda tidak termasuk di dalamnya, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan kembalilah ke jalan petunjuk.

Berbaik sangka atas segala ketetapan Allah…

Subhanallah beberapa minggu ini kita banyak sekali kehilangan beberapa teman yang sudah terlebih dahulu menghadap Nya. Memang umur manusia sudah ditentukan dalam lauh mahfudz-Nya, tidak ada kemungkinan sedetikpun untuk dipercepat atau bahkan diperlambat, semua sudah ditentukan dan manusia tinggal menjalani peran yang sudah ditentukan Nya, tidak ada sekecil pun kejadian di muka bumi ini yang berada di luar kekuasaan Nya…

Bagaimana sesungguhnya Allah menggariskan garis hidup seseorang ?… sejak kapan nasib kita dituliskan Allah ? dan dimanakah tertulis garis nasib kita ditempatkan ?… pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap timbul dalam pikiran kita. Oleh karena itu, ada baiknya kita memahami ihwal garis hidup itu seperti tertuang dalam QS. Al – Hadid, ayat 22-23:
”Tiada suatu bencana (mushibah) pun yang menimpa dibumi dan pada diri kamu melainkan telah tercatat dalam kitab ( Lauhil Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah sangat mudah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia sudah merupakan ketentuan dari Allah yang telah tercatat dalam sebuah kitab yang bernama Lauhil Mahfuzh. Kata musibah dalam ayat di atas diartikan sebagai bencana namun menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir al-mishbah, musibah bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang positif (anugerah dari Allah), artinya musibah yang menurut manusia dimaknai sebagai sesuatu yang negatif, bisa jadi merupakan hal positif di mata Allah. Misalnya sakitnya kita merupakan manfaat bagi dokter, atau bahkan ketika kita meninggal pun masih memberikan manfaat bari orang lain (bagi dokter, perawat, penggali kubur dll).

Subhanallah, ternyata Allah selalu memberikan hikmah disetiap saat dalam perjalanan hidup ini…Beruntunglah orang-orang yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian-kejadian dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu.

…..Yaa Allah, ketika aku kehilangan harapan, tolonglah aku untuk mengingat bahwa rahmat-MU lebih besar daripada kekecewaanku dan rencana-MU adalah lebih baik daripada mimpiku….

Merayakan Hari Kemenangan Di Negeri Minoritas Muslim

Hari kemenangan yang dinanti itu pun akhirnya tiba. Banyak cara bagi umat muslim untuk merayakan hari yang sangat didambakan tersebut.  Secara umum, makna Idul Fitri bagi sebagian orang muslim adalah hari kemenangan, hari menuju fitrah (kesucian), dimana tali silaturahmi sangat mewarnai hari penuh makna ini. Pasalnya, setelah sebulan lamanya umat muslim melaksanakan ibadah puasa, seharusnya hati mereka menjadi lebih bersih dari zat-zat keduniawian yang bisa merusak iman muslimin dan muslimah. Sebab, sudah sepatutnya Idul Fitri ini menjadi momentum yang sangat penting untuk berjihad menegakkan kembali amanah hari kemenangan.

Tak terkecuali masyarakat Indonesia yang hidup diperantauan. Saya termasuk salah satunya meski hanya akan tinggal selama 6 minggu atas undangan pemerintah Taiwan guna mengikuti The 109th Regular Session on Financing Government, Decentralization and Development Training yang diselenggarakan oleh International Center of Land Policy Study and Training (ICLPST) yang beralamat di Chungshan Road, Taoyuan County, Taiwan Republic of China.

Berpuasa dan berlebaran di negeri orang dimana masyarakat muslim bukan merupakan mayoritas merupakan pengalaman yang sangat baru bagi saya. Namun demikian ternyata ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa dan pekerja muslim Indonesia untuk berpuasa dan merayakan lebaran di Taiwan. Namanya juga manusia yang bisa berbeda satu sama lain, ternyata tidak hanya di Indonesia ada perbedaan pelaksanaan sholat idul fitri juga di Taiwan.

Kami sudah mulai sibuk memantau informasi akhir Ramadhan mulai hari Sabtu. Saya terus memantau perkembangan berita melalui teman yang baru saja saya kenal yaitu seorang mahasiswa Indonesia bernama Lalu Muhammad Jaelani yang sedang mengambil program Master bidang remote sensing di NCU. Meskipun akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan untuk berlebaran pada hari Minggu namun ternyata muslim Taiwan juga tidak seluruhnya berlebaran di hari tersebut karena ada sebagian yang merayakannya pada hari Senin. Shalat Idul fitri bersama pada hari Minggu dapat dilakukan di mesjid besar atau mesjid kecil Taipei sedangkan yang merayakannya pada hari Senin dapat bergabung dengan msyarakat muslim di masjid Jhongli.

Merayakan lebaran di Taiwan bukan hal yang mudah, untuk mencapai lokasi Taipei Grand Mosque di Taipei kita terlebih dahulu harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari Taoyuan. Berangkat subuh saya bersama seorang teman dari Indonesia dan seorang lagi dari Libiya sudah bersiap-siap menggunakan kereta yang baru pertama kali itu pula saya coba naiki. Alhamdulillah sampailah kita di Taipei Main Station tepat pukul 6.30 am dan bertemu dengan rombongan mahasiswa NCU di sana untuk kemudian naik MRT ke arah Guting. Sesampainya di Guting kita masih harus berjalan kaki kurang lebih sekitar 20 menit menuju ke arah Daan Park dimana lokasi masjid berada. Subhanallah pengalaman sangat berbeda saya rasakan, mungkin karena kita sama-sama merasa senasib sepenanggungan yang menyebabkan kita merasa sudah seperti saudara setiap kali bertemu dengan orang Indonesia di sepanjang perjalanan menuju masjid.

Tidak jauh dari Daan Park mulai terlihat sebuah gereja yang menurut informasi tidak jauh dari gereja itulah lokasi masjid besar berada. Terbayang sudah betapa besarnya masjid itu dalam benak saya. Namun demikian setelah tepat berada di halaman depannya apa yang sebelumnya saya bayangkan sangat berbeda. Taipei Grand Mosque ternyata tidak begitu besar, masih kalah megah dibandingkan dengan Majid DJP. Hanya ada beberapa hal yang berbeda dari segi interior maupun eksteriornya, maklum masjid ini dikelola oleh masyarakat muslim Cina. Wah ternyata banyak juga masyarakat muslim di Taipei dan memang masih didominasi oleh orang Indonesia. Perasaan sangat berbeda ketika memasuki tempat wudhu dimana untuk berwudhu disediakan kursi untuk duduk, sandal dan handuk kecil yang sangat jarang saya temui di Indonesia.

Seperti biasa acara shalat ied diawali dengan takbir yang sempat membuat hati saya bergetar dan kulit saya merinding, maklum baru kali ini saya berlebaran jauh dari keluarga. Ada lagi yang sangat berbeda menjelang pukul 8.45am saat sang ta’mir masjid yang menggunakan jubah putih khas orang Arab tampil ke depan, semula saya mengira dia akan memulai shalat namun ternyata itu merupakan awal khutbah yang tentunya menggunakan bahasa Cina. Dialog tersebut berlangsung cukup lama dan kemudian dilanjutkan dengan shalat berjamaah.

Nah pada bagian inilah saya merasakan ada perbedaan dengan shalat ied yang biasa kita lakukan di Indonesia, entah dari mahzab mana yang mereka gunakan dimana takbir pada rakaat pertama hanya 5 kali, dilanjutkan rukuk kemudian diikuti sujud. Pada rakaat kedua takbir hanya sekali namun uniknya setelah rukuk tidak langsung sujud ada tambahan semacam doa yang saya tidak mengerti, kemudian sujud. Selesai sholat saya mengira pasti saya akan terdiam seribu kata karena tidak mengerti isi khutbah yang akan disampaikan karena pasti dalam bahasa Cina, namun prasangka itu berubah menjadi kekaguman luar biasa karena ternyata sang imam menyampaikan khutbahnya menggunakan bahasa arab dengan cukup fasih…. Subhanallah.

Selesai sholat di luar masjid sudah disediakan hidangan snack ala kadarnya dan di tempat itulah kita saling bertegur sapa untuk mengucapkan selamat lebaran sekaligus saling memaafkan. Khusus untuk mahasiswa dan pekerja Indonesia kita sempat diundang makan oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Bapak Suhartono di rumahnya. Alhamdulillah acara ini dapat sedikit mengurangi kerinduan kami akan makanan Indonesia.

Dalam kesempatan itu saya sempat bercakap-cakap dengan beberapa teman dari BIN yang juga berlebaran di tempat yang sama. Ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pada hari itu. Ternyata meskipun jauh dari keluarga saya masih bisa merayakan lebaran bersama orang-orang yang telah kami anggap sebagai saudara. Mereka sangat memperhatikan kami sesama muslim Indonesia, bapak-ibu dari KDEI dapat dianggap sebagai orang tua, rekan-rekan tenaga kerja dan mahasiswa yang aktif di masjid sudah seperti saudara. Satu prinsip yang senantiasa membuat saya bersemangat, berikan kontribusi dan perhatian meskipun sedikit dimanapun kita berada, berusaha semampu kita untuk menjalankan pekerjaan dan amanah dengan baik apapun posisi dan profesi kita, semoga Allah memberikan kemudahan pada kita semua. Selamat idul fitri, Mohon maaf lahir dan batin….