Maafkanlah Aku Yaa Alloh Yaa Robb…

20141019_131052
Pink Mosque @Putrajaya 2014

Meski belum pernah melakukan penelitian spesifik tentang hal ini, namun rasanya pada umumnya manusia dapat dengan mudah dan langsung klik dengan Alloh ketika sedang mengalami “masa-masa sulit”. Bahkan tidak sedikit manusia yang pada akhirnya berpaling dari Alloh ketika kesulitannya menghilang.  Ketika karir dan bisnis sedang berkembang bak air mengalir maka kadang sholatnya pun menjadi jarang dan tak lagi bisa tepat waktu, ibadah sunahnya pun jadi berkurang ditelan kesibukannya.  Bahkan ketika harta sedang berlimpah sementara imannya masih tipis/ lemah dan bisa jadi belum siap menerima limpahan harta tak jarang seseorang akan semakin dekat dengan perbuatan maksiat menjadi perpaduan yang sangat harmonis mendominasi hidupnya.  Padahal ketika dulu hidupnya sedang “susah” dalam persepsinya saat itu, kegiatannya sangat jauh dari maksiat karena pada saat itu tidak mempunyai uang, dan sekarang malah menjadi lebih dekat dengan maksiat karena banyak uang dan fasilitas.

Pertanyaannya sudah siapkah kita untuk selalu dekat dengan Alloh disegala situasi ? Kekuatan iman akan menentukan hal ini. Bersiap-siaplah untuk selalu dicoba, itu tandanya Alloh sayang dengan diri kita dan akan membawa kita pada level keimanan yang lebih tinggi. Prinsipnya untuk naik kelas “harus belajar”. Ternyata masih juga dicoba, seberapa siapkah kita menerima kenikmatan dunia yang menyebabkan kita lupa dan berpaling lagi dari Alloh. Selama kenikmatan dunia hanya diukur dengan materi, selalu menyembah berhala-berhala dunia yang tidak kita sadari karena masih tipisnya iman maka selama itu pula kita akan terus belajar sampai “lulus”. Begitu mahalnya untuk menjadi seorang hamba yang senantiasa dekat dengan Alloh ? Sehingga kadang perlu dijatuhkan terlebih dahulu sampai pada titik dimana kita merasa tidak ada lagi yang bisa menolong kita selain Alloh ? Yaa Rabb, ampuni dan maafkanlah hambamu ini….

Aa Gym dalam salah satu acara di TVOne menganjurkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Alloh saat kita susah maupun senang, karena beliau pun mengalami pasang surut kehidupan. Agar Alloh meridhoi terhadap apa yang sudah kita dapatkan maka tidak ada kata lain yang lebih tepat selain syukur.  Dan pada saat kita sedang susah dalam persepsi manusia, Alloh akan membalikkan persepsi kesusahan tersebut menjadi keadaan yang menyenangkan.  Ibarat sebuah roda, kian lama kian berputar dan kecepatan berputarnya roda tergantung seberapa kuat untuk didorong. Hingga pada suatu saat akan mencapai suatu masa dimana dia akan berada di atas, dan pada suatu masa berikutnya dia akan berada diposisi bawah kembali tergantung bagaimana cara kita mengendalikannya. Yang mesti kita bangun adalah pada saat dimana pun posisi roda itu berada kita akan siap dan selalu merasakan kenikmatan yang tiada tara. Sebagaimana firman Alloh dalam QS Yunus ayat 12:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.

Rosululloh mengajarkan kepada kita untuk senantiasa meminta maaf kepada Alloh melalui sebuah doa yang berbunyi: “Allohumma innaka ‘afuwwun karimun, tuhibbul afwa fa’fu anni (Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Dermawan. Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah dosa-dosaku). Doa ini yang paling saya suka. Nikmat rasanya ketika mengucapkannya. Seakan seperti seorang anak kecil yang sedang mengakui kesalahannya dihadapan orang tuannya dengan penuh rasa bersalah.

Rasa bersalah yang sangat mendalam dilatarbelakangi karena setiap insan pasti mempunyai kesalahan kepada Alloh, termasuk juga kesalahan kepada sesama manusia, dan kepada alam. Para ulama mengatakan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah orang yang mau bertobat. Lebih dari itu, selain harus bertobat, dengan memperbanyak ampunan seraya menyesali dan berhenti melakukan kesalahan. Doa tersebut diawali oleh pertanyaan Siti Aisyah kepada Rosululloh. Siti Aisyah bertanya: “Wahai Rasululloh, doa apa yang sebaiknya dibaca ketika malam-malam Ramadhan sambil menunggu kehadiran Malam Qadr ?”  Kemudian Rosululloh menjawab: “Perbanyaklah membaca doa tersebut”.

Doa tersebut menjadi sangat menarik dan penting untuk dipahami lebih jauh maknanya secara bahasa Arab. Menurut Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali Rahimahullah, dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Alloh al-Husna yang ditulis oleh Abdul Aziem dan kemudian dianalisa oleh Dr. H. Khairil Anwar yang dalam bloqnya dikatakan bahwa didalam ungkapan doa itu terdapat dua kata Asmaul Husna yang saling terkait satu sama lainnya. Kedua kata Asmaul Husna itu adalah  Afuwwun yang artinya Zat Yang Maha Pemaaf dan Karimun yang artinya Zat Yang Maha Dermawan.  Disamping itu diantara nama-nama Alloh yang indah tersebut, ada dua nama lain yang saling berdekatan maknanya, yaitu al-Ghaffar dan al-Ghafur. Alloh bersifat al-Ghaffar dan al-Ghafur, yang keduanya memiliki arti mengampuni, meskipun berbeda penekanannya. Alloh disebut al-Ghaffar karena ia sering mengampuni kesalahan kita setiap kali kita melakukan kesalahan. Sifat ini menekankan pada kuantitas pengampunan. Alloh disebut al-Ghafur karena ia dapat memberikan pengampunan dengan pengampunan yang sempurna, sampai pada batas pengampunan yang paling tinggi.  Dengan demikian menurut beliau, sifat Alloh al-Ghafur lebih tinggi dari sifat al-Ghaffar.

Selanjutnya menurut al-Ghazali, al-Afuwwu yang artinya pemaafan lebih tinggi dari pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur). Menurutnya, pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur) hanya sebatas ‘menutupi’ kesalahan kita, sehingga kesalahan itu tidak menimbulkan efek negatif terhadap diri kita. Namun, pada hakikatnya, kesalahan itu tetap ada. Sedangkan makna al-Ghaffar dan al-Ghafur bermakna ‘menutupi’. Dengan begitu, kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan dibuka kembali oleh Alloh di saat kita berhadapan satu-persatu di hadapan-Nya, kelak pada hari kiamat. Namun demikian makna al-Afuwwu adalah al-mahwu wa izalat al-atsari yang artinya menghapus dan menghilangkan bekas. Hal ini dapat dianalogikan sama dengan kita men-delete secara permanen sebuah file di dalam komputer kita, yang kemudian tidak dapat dilakukan recover. Ketika Alloh memaafkan kita, maka kesalahan kita itu terhapus dari buku catatan amal kita, bahkan malaikat pun tidak mengetahuinya. Subhanalloh.

Makna yang dapat kita ambil sebagai sebuah pelajaran adalah: Pertama, kita diminta untuk meneladani sifat Afuwwun dalam kehidupan sehari-hari dengan selalu berusaha menjadikan sifat pemaaf sebagai bagian karakter diri kita. Masalah apapun yang terjadi kalau kita memiliki karakter saling memaafkan maka, Inshaa Alloh, kesalahpahaman, konflik, dan masalah-masalah yang terjadi pasti akan mudah didapatkan solusi terbaik.

Kedua, kita diminta untuk meneladani sifat Karimun. Rosululloh adalah orang yang sangat dermawan. Padahal kehidupan beliau sederhana, dan bukan termasuk orang yang kaya harta, tapi kenyataan sejarah membuktikan bahwa Rasululloh adalah orang yang  sangat dermawan. Kenapa? Karena Rasululloh mencontoh Alloh yang Maha Dermawan.

Subhanalloh indah dan nikmatnya menjadi orang yang pemaaf dan dermawan…. Barokallohu fiik…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s