Salah satu cerita masa kecilku: “Menulis Nama di Daun”

by: Wiwien Wintarto

Beberapa hari yang lalu, aku berhasil kontak-kontakan lagi lewat Facebook dengan Eddi Wahyudi, teman yang paling lama hilang kontak denganku. Soalnya dia teman jauh dari masa kecil dulu, dan terakhir kali ketemu adalah kira-kira tahun 1988 atau 1989 saat kami masih SMA.

Eddi adalah teman pertamaku saat baru pindah dari Borobudur, Magelang, ke Perumahan Genuk Indah di Semarang akhir tahun 1982. Kami sekelas di kelas V dan VI SD Gebangsari I, Genuk, dan bertetangga. Dia di Blok E, sedang aku di Blok B.

Awal dekade 80-an adalah periode buming kaset video. Dan bareng keluarga Pakde Tjun di Jangli, keluarga Eddi adalah orang-orang pertama yang punya video player. Habis pulang sekolah, kami kerap hang out di rumah Eddi untuk nonton video. Nanti pas weekend, nontonnya ganti di rumah Bayu, Sam, Maya, Wulan, Panca, di Jangli. Menu favorit kala itu adalah serial kungfu Sia Tiauw Enghiong dan Sin Tiauw Hiap Loe. Bareng Eddi lah pertama kali aku kepikiran nerbitin novel. Saking gatelnya, waktu itu kami sampai bikin novel sendiri dari buku tulis (buku biru Cap Banteng, buku paling populer kala itu). “Novel pertama”-ku waktu itu berjudul Yang Dinanti Datanglah Jua. Genre-nya melodrama anak-anak. Kisahnya tentang kakak-beradik yang terpisah karena banjir dan lantas ketemu lagi namun nggak menyadari bahwa mereka saudara kandung.

Novel YDDJ komplet dilengkapi dengan “kaver” (ilustrasi by me!) dan kredit penerbit kayak di buku beneran. Nama “perusahaan” penerbitnya pun ada, yaitu CV Eka Jaya Sakti alias EJS. Yang lucu, di bagian depan tertulis cetakan pertama pada bulan Desember 1982, tapi di bagian ending ada tag tanggal tertulis Februari 1983. Masa ada buku tanggal cetakannya lebih awal daripada tanggal selesai penulisannya? Huehehe…!

Kami juga sempat jadi kartunis amatiran selama beberapa bulan. Jadi waktu itu almarhum Bapak pegang rubrik kartun di Minggu Ini (edisi Minggu Suara Merdeka, sebelum berevolusi jadi Cempaka Minggu Ini dan SM kemudian nerbitin Edisi Minggu). Karena aku masih getol belajar ngartun dan ngomik, aku dikasih lahan untuk ikut nimbrung di rubrik itu. Maka aku pun ikut nggambar kartun dengan nama Top 84 (kemudian Top 85, sesuai tahunnya). Tokoh kartunku selalu gundul, berhubung dulu aku sempat gundul juga. Aku lantas ngajak temen-temenku untuk ikut gambar kartun juga, termasuk Eddi, Pratmono, dan adikku si Itok.

Waktu itu kartunis idola kami adalah almarhum Edy PR, yang selalu menambahkan nama gengnya, POKAL, di belakang nama. Berhasrat mau bersaing dengan POKAL, KOKKANG, dan SECAC (organisasi perkartunan Semarangawal 80-an), kami pun bikin kelompok sendiri, yaitu PANIK (Paguyuban Kartunis Genuk). Selama beberapa edisi berturut-turut, karya kartunis-kartunis cilik dari PANIK bergantian menghiasi rubrik kartun MI. Kami pun sudah belajar nyari duit sendiri (uang honorku dikumpulin Ibu dan dibelikan celana pendek!). Tapi namanya ya anak-anak, begitu bosan, profesi sebagai kartunis pun ditinggalkan untuk nyari hobi lain.

Selain lewat rubrik kartun di koran, Eddi dan aku juga nyari duit dengan mendirikan perpustakaan (persewaan buku). Namanya Perpustakaan Rajawali. Modal bukunya ya komik dan novel punya kami yang lalu dikumpulkan jadi satu. Ketika itu geliat enterpreneurship kami udah kayak wirausaha sungguhan.

Kami sempat bikin stempel Perpus Rajawali dan member card. Lantas di balik kaver belakang tiap buku ditempeli kartu tanda kembali mirip buku-buku perpus sekolah. Nggak lupa di atasnya ada judul “DATE DUE” meski belum tahu date due itu artinya apa! Anggota Perpus Rajawali ya rata-rata teman sekolah dan anak-anak tetangga kanan-kiri.

Nah, pas kelas VI, di mapel Bahasa Indonesia, guru kelas kami Pak Supadi ngasih tugas bikin sandiwara kelompok. Eddi dan aku kebetulan satu kelompok, bareng anak-anak lain kayak Pratmono, Erwanto, Mangapul Ramli, Zainur Rofiq, Sriyono, dan juga Ardi Purnomo. Aku kebagian nulis naskahnya, dan kukasih cerita berjudul Insyaf. Ceritanya tentang pecandu narkoba yang tertangkap polisi, dimarahi ayahnya, dan lantas insyaf. Aku lupa pembagian perannya. Yang jelas waktu itu peranku ada dua. Satu sebagai Kapten Polisi, dan satunya lagi sebagai…. sound effect pintu!

Bener. Waktu itu suaraku “iiiyeeeeekkk….!” mirip sama pintu yang engselnya karatan, jadi aku dikasting jadi pintu! Pas adegan polisi datang mengetuk pintu, aku beraksi sebagai pintu yang dibuka. “Permisiii…!”, “Tok, tok, tok!”, “Monggo!”, “Iiiyyeeeeekk…!”.

Selain sandiwaranya dipentaskan di kelas, kami juga ditugaskan merekamnya di kaset. Pas rekaman diputar di kelas sebelum kelompok kami pentas, anak-anak pada ketawa dengar sound effect pintu. Habis itu yang main giliran kelompok anak-anak perempuan, Dhanita Amir cs. Di sandiwara mereka, ada adegan pisau belati dilempar ke meja dan bikin penonton kaget!

Tahun 1986, Piala Dunia FIFA digelar di Meksiko. Kami sama-sama maniak bola. Dan saking ngefansnya, Eddi sampai melakukan hal yang sungguh ganjil. Dia menulisi daun-daun pohon jambu di pekarangan rumahku pake spidol dengan nama-nama pemain terbeken di Piala Dunia saat itu. Ada daun ditulisi Altobelli, Careca, Francescoli, dan lain-lain!

Suatu saat habis ortunya pulang dari naik haji, temen-temen segeng ngumpul di rumahnya untuk menerima oleh-oleh cendera mata dari Arab Saudi. Aku dioleh-olehi tasbih mini dan Alquran mini yang kuwecuiiil buanget (sayang kedua benda penting itu sekarang sudah hilang).

Sambil nongkrong, Mono, Itok, dan aku ngemil. Salah satu yang paling laris adalah kacang Arab. Maklum, camilan mancanegara. Awalnya kami heran, kok rasanya pahit dan agak tengik kayak snek kadaluarsa gitu. Tapi dengan pedenya Mono lantas bilang, “Kalo kacang dari Arab rasanya emang kayak gini!”

Maka kami pun meneruskan ngemil dengan antusias meski rasanya pahit. Baru sesaat kemudian Eddi ikut ngemil juga. Pas tahu rasanya pahit, dia mengerenyit dan mengecek serta menghidu kacang di stoples. Tahu-tahu dia bangkit dan membawa pergi stoples kacangnya sambil menggeremeng,

“Woo… kacangnya udah tengik…!”

Yang lain pun hanya saling berpandangan dengan tampang bego.

Taken from: http://wiwienwintarto.blogspot.com/2009/10/menulis-nama-di-daun.html

Advertisements

About Eddhi Wahyudi H

Location: Jakarta, Indonesia Employer: Directorate Generale of Tax, Ministry of Finance Republic of Indonesia. Interest: Indonesian Property Tax System, Financial Management, Strategic Management
This entry was posted in Umum and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Salah satu cerita masa kecilku: “Menulis Nama di Daun”

  1. Santy says:

    Senang yah, setelah dewasa hampir sebagian dari kita melakukan profesi tidak jauh dari bidang yg sdh dimulai sejak kecil, misalnya menjadi penulis buku, penulis di mdia massa…..penulis blog….. hehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s