Daily Archives: June 4, 2011

Bagian lain cerita masa kecilku (2): Cerdas Cermat P4… by: Wiwien Wintarto

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150190745168379&comments&cmntid=10150193484153379&notif_t=comment_mention

Ada dua hal yang sangat khas pada era Orde Baru zaman pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu P4 dan cerdas cermat.

P4 adalah singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Pada dasarnya ini panduan untuk melaksanakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tapi karena didesain terlalu rigid dan formal, P4 malah menjadi indoktrinasi mental yang menjurus ke arah brainwash massal mirip di negara-negara diktatorial absolut.

Sedang cerdas cermat adalah sebangsa kuis pendidikan untuk anak sekolah. Peserta biasanya terdiri atas tiga regu, yang masing-masing beranggotakan dua personel (satu juru bicara bareng dua pendamping di kanan-kiri). Mereka harus menjawab serangkaian pertanyaan yang masing-masing bernilai 100 poin.

Cerdas cermat kali pertama muncul lewat TVRI dengan beragam nama. Ada Cerdas Cermat untuk level SMP, Cepat Tepat untuk level SMA, dan Tebak Tepat di TVRI Stasiun Yogyakarta. Kuis ini sangat populer pada era 1980-an. Tentu belum cair, lucu, dan menghibur seperti kuis-kuis zaman sekarang. Kala itu penyajiannya masih amat formal, kaku, dan cenderung lugu. Anda pasti tertawa terbahak-bahak kalau menyaksikannya!

Nah, pada akhir masa sekolahku di kelas V, aku sempat menjadi bagian ketika kedua hal tersebut dijadikan satu ke dalam even LCT (Lomba Cerdas Cermat) P4 tingkat SD. Karena berdasar fitnah aku dianggap berotak encer, aku dipanggil masuk “timnas” LCT P4 SD Gebangsari. Eddi juga ikut dipanggil.

Kami akan diikutsertakan mengikuti LCT P4 tingkat SD tahun 1983 untuk bertarung di tingkat Dapen. Aku tak pernah tahu apa kepanjangan Dapen itu. Mungkin Daerah Pendidikan. Zona kami bertanding adalah Dapen B, yang jika keluar sebagai juara akan bertanding di tingkat Kecamatan Genuk, lalu mendaki terus hingga ke level kota (waktu itu sebutannya Kotamadya), provinsi, dan lantas kompetisi nasional se-Indonesia.

Seluruh anggota tim kemudian mengikuti latihan marathon dan seleksi ketat di bawah bimbingan “coach” Pak Nasuha, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang galak dan bersuara keras. Kami disuruh menghapal ratusan butir pertanyaan mengenai P4 yang mungkin akan diberikan pas perlombaan. Sesudah itu, kami mengikuti simulasi permainan cerdas tangkas mirip suasana sesungguhnya di lapangan.

Sesudah diseleksi, aku lolos masuk tim inti. Aku turun di tim SD Gebangsari I (waktu itu SD-ku terdiri atas tiga lokal) bareng Yayuk dan seorang teman lagi yang sayang aku lupa namanya. Aku bertindak sebagai juru bicara. Eddi juga lolos. Ia main di tim SD Gebangsari II bareng Yusuf dan Gemini (ini cewek!). Satu tim lagi mewakili SD Gebangsari III dihuni oleh Reza dan dua teman lain. Tim III beranggotakan anak-anak kelas IV, sedang yang lain-lain sudah di kelas V semua.

Perlombaan di Dapen B mengambil tempat di SD Trimulyo, kira-kira 4 kilometer dari SD Gebangsari, dan digeber dalam dua hari. Aku lupa hari dan tanggalnya. Kalau tak salah sekitar bulan Maret 1983, pada hari Senin dan Selasa. Perlombaan langsung masuk perempat final, sehingga para pemenang langsung maju ke semifinal.

Tim II bertanding duluan melawan dua tim lain. Eddi cs melaju dengan mulus. Timku turun bermain di sesi berikutnya. Lawan kami justru Tim III dan satu lagi tim dari SD lain. Bagai dapat durian runtuh, daftar pertanyaan yang diberikan ke timku pas babak pertanyaan wajib persis salah satu draf soal yang paling kuhapal luar kepala pas latihan, dengan urutan nomor pertanyaan yang sama sekali tak beda.

Tak heran 15 pertanyaan kusikat habis dan bikin semua orang mendesis penuh kekaguman. Itu rekor, karena di babak ini biasanya pasti ada dua atau tiga pertanyaan yang dijawab salah. Timku melaju mulus 100%. Orang-orang pasti berpikir ini tim jenius, padahal hanya karena sudah telanjur hapal!

Dan sesudah melewati babak pertanyaan lemparan dan pertanyaan rebutan (di mana jika salah menjawab maka skor akan dikurangi 100), timku menang dengan poin 2.100. Ini juga rekor, karena hingga perlombaan berakhir, tak ada satu tim pun kecuali timku yang membawa pulang di atas 2.000 poin.

Maka dua tim SD Gebangsari maju ke semifinal dan berpeluang membuat all-Gebangsari-final. Dan melihat betapa mulusnya timku melaju, pihak sekolah kami yakin hal itu akan jadi kenyataan.

“Wah, kayaknya kita akan tarung di final, nih!” cetus Eddi sesudah timku selesai main.

“Oh, tentu saja!” sahutku jumawa. “Dan kamu akan kalah, hehe…!”

Eddi tertawa. “Sialan!”

Di semifinal, kebetulan timku jumpa SD tuan rumah. Dan beda dari drawing pas babak sebelumnya, semifinal masing-masing hanya mempertemukan dua tim, jadi pertarungan sangat menegangkan. Masih terlena kemenangan pas perempat final, aku maju terlalu pede. Sayangnya, pagi sebelum berangkat sekolah aku tak sempat sarapan, entah karena apa.

Baru pas turun main sekitar pukul 10, efek tak sarapan terasa. Perut keroncongan dan membuat konsentrasi buyar. Sudah begitu, kami diteror suporter tuan rumah. Jawabanku benar atau salah, selalu disambut seruan “boooooo….!” atau “whuuuuu….!”. Dan tiap kali tim lawan meraih angka, bunyi tepuk tangan luar biasa berisik mengganggu kuping.

Akhirnya timku kalah. Itu pertama kalinya dalam hidup aku menelan pil pahit yang bernama kekalahan, mirip Bayern Munchen pas kalah dari MU di final Liga Champions 1998/99 yang dramatis itu. Untung tim I menang di semifinal dan keluar sebagai juara pula setelah mengalahkan SD Trimulyo di grand final.

Sekolahku pun berhak mewakili Dapen B ke perlombaan tingkat kecamatan. Dan tim kami dioplos lagi. Meski gagal, aku tetap dimasukkan tim inti bareng Eddi dan Yusuf dengan Yusuf menjadi juru bicara. Kami akhirnya keluar sebagai juara III. Hadiahnya piagam yang ditandatangani Walikota Semarang waktu itu, Pak Iman Soeparto Tjakrajoeda dan Tabanas Budaya di Bank Bumi Daya (sekarang jadi Bank Mandiri) senilai Rp 5.000 yang kala itu sungguh terasa seperti 5 miliar di benakku.

Tentu senang bisa juara, tapi kenangan pahit kekalahan terus membayang. Apalagi si Reza (yang adalah teman sekelas Itok) teruuuus saja mengungkit-ungkitnya tiap main ke rumah.

“Kemarin itu kamu kok bisa kalah kenapa sih, Mas?” demikian selalu ia bertanya, dengan nada polos tapi nyelekit.

“Padahal kan harusnya gampang. Kalau kamu menang, di final kita bisa tarung lawan teman sendiri, timnya Mas Eddi dan Mas Yusuf. Gimana sih, Mas? Kok bisa kalah tu, lho. Padahal kan…”

Dan aku pun hanya bisa menggeram, lalu melengos menjauhinya.

About these ads